- Social commerce adalah proses jual beli yang terjadi langsung di dalam platform media sosial mulai dari discovery hingga pembayaran, berbeda dari e-commerce yang mengharuskan pembeli berpindah ke website atau marketplace.
- Tantangan terbesar bagi seller yang menjalankan social commerce adalah memastikan stok dan data produk tetap sinkron antara berbagai channel social commerce dengan marketplace lain yang digunakan secara bersamaan.
- Mekari Desty adalah software omnichannel marketplace yang memudahkan seller mengelola operasional di balik strategi social commerce, mulai dari katalog produk, pemrosesan pesanan manual dari media sosial, hingga sinkronisasi stok lintas channel dalam satu sistem terpusat.
Media sosial kini bukan lagi sekadar tempat orang terhubung dan mencari hiburan, tetapi juga telah berkembang menjadi kanal penjualan yang kuat. Fenomena ini dikenal sebagai social commerce, yaitu ketika aktivitas bersosialisasi, menemukan produk, hingga melakukan pembelian terjadi dalam satu ekosistem digital.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari apa itu social commerce, perbedaannya dengan e-commerce dan social selling, contoh penerapannya di Indonesia, cara kerjanya, tren yang membentuk social commerce di 2026, hingga tips menerapkannya untuk bisnis Anda.

Apa itu social commerce?

Social commerce adalah proses jual beli produk atau layanan yang dilakukan melalui platform media sosial. Berbeda dari sekadar menggunakan media sosial untuk mempromosikan produk, social commerce memungkinkan calon pelanggan menemukan, mempertimbangkan, hingga membeli produk melalui fitur yang tersedia di platform tersebut.
Konsep ini membuat perjalanan belanja menjadi lebih singkat. Calon pelanggan tidak harus melihat produk di media sosial, kemudian membuka website lain untuk mencari informasi, dan berpindah lagi ke halaman checkout. Dalam social commerce, berbagai tahap tersebut dapat berlangsung dalam satu platform.
Platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp juga menyediakan berbagai fitur yang mendukung aktivitas tersebut, mulai dari katalog produk, product tag, live shopping, hingga komunikasi langsung antara penjual dan calon pelanggan.
| Aspek | Social Commerce | E-commerce | Social Selling |
|---|---|---|---|
| Tempat transaksi | Langsung di dalam platform media sosial | Website, aplikasi, atau marketplace khusus | Umumnya diarahkan ke website atau tools penjualan |
| Awal perjalanan pembeli | Discovery, pembeli menemukan produk yang bahkan belum mereka sadari butuhkan | Intent, pembeli mencari sesuatu yang memang sudah diinginkan | Interest, calon pembeli penasaran namun belum tentu berniat membeli |
| Pemicu pembelian | Konten feed, UGC, rekomendasi kreator, live shopping | Pencarian, ulasan, rating, navigasi langsung | Advokasi karyawan, testimoni klien, demo produk |
| Lokasi checkout | Di dalam platform (in-app checkout) | Website brand atau marketplace | Website brand atau tools penjualan |
E-commerce berfokus pada transaksi online, social selling berfokus pada membangun hubungan untuk menghasilkan penjualan, sedangkan social commerce menggabungkan interaksi sosial dengan pengalaman berbelanja.
Contoh social commerce di Indonesia
Berikut beberapa contoh penerapan social commerce yang paling umum ditemukan di Indonesia:
1. TikTok Shop
TikTok Shop memungkinkan seller menampilkan dan menjual produk melalui berbagai format konten, mulai dari video pendek, sesi LIVE, hingga etalase produk. Calon pelanggan dapat menemukan produk ketika sedang menikmati konten, kemudian langsung melihat detail produk dan melanjutkan proses pembelian.
Model ini membuat konten hiburan sekaligus berfungsi sebagai titik awal perjalanan belanja.
2. Instagram Shopping
Instagram dapat digunakan bisnis untuk menampilkan produk melalui feed, Stories, maupun Reels. Fitur seperti product tag membantu calon pelanggan mengenali produk yang muncul dalam konten dan melihat informasi produk tanpa harus mencarinya secara manual.
Bagi bisnis retail, pendekatan ini membuat katalog produk terasa lebih natural karena produk ditampilkan melalui konten visual yang memang menjadi kekuatan utama Instagram.
3. WhatsApp Business
WhatsApp Business banyak digunakan bisnis untuk menampilkan katalog, menjawab pertanyaan pelanggan, memberikan rekomendasi produk, hingga menerima pesanan melalui percakapan.
Meskipun alur transaksinya tidak selalu berlangsung melalui checkout in-app seperti pada platform social commerce lainnya, komunikasi langsung melalui chat membuat proses pembelian terasa lebih personal dan interaktif.
4. Facebook Marketplace dan Facebook Shop
Facebook Marketplace memungkinkan bisnis maupun individu menawarkan produk kepada pengguna berdasarkan kategori dan lokasi tertentu. Sementara itu, Facebook Shop dapat digunakan bisnis untuk menampilkan katalog produk melalui halaman bisnis mereka.
Keduanya dapat membantu bisnis menjangkau calon pelanggan yang memang sedang mencari produk tertentu di dalam ekosistem Facebook.
Cara kerja social commerce
Social commerce pada dasarnya mengubah media sosial dari sekadar kanal promosi menjadi bagian dari perjalanan pembelian. Berikut tahapan umumnya:
1. Discovery
Perjalanan dimulai ketika calon pelanggan menemukan produk. Mereka bisa melihatnya melalui feed, video pendek, iklan, konten kreator, live streaming, atau rekomendasi algoritma.
Menariknya, calon pelanggan tidak harus sedang mencari produk tersebut. Mereka bisa saja awalnya hanya menonton konten, kemudian tertarik setelah melihat produk yang ditampilkan.
2. Consideration
Setelah tertarik, calon pelanggan mulai mencari informasi lebih lanjut. Mereka dapat melihat foto dan deskripsi produk, membaca komentar, menonton ulasan, atau bertanya langsung kepada seller melalui fitur chat.
Pada tahap ini, social proof seperti rating, review, komentar, dan user-generated content dapat membantu mengurangi keraguan calon pelanggan.
3. Purchase
Jika sudah yakin, calon pelanggan melanjutkan ke proses pembelian. Pada platform yang menyediakan fitur checkout native, seluruh transaksi dapat dilakukan langsung di dalam aplikasi.
Semakin sederhana prosesnya, semakin sedikit pula hambatan yang harus dilewati calon pelanggan sebelum menyelesaikan pembelian.
4. Advocacy dan retention
Perjalanan tidak berhenti setelah transaksi selesai. Pelanggan yang puas dapat memberikan review, mengunggah konten menggunakan produk, atau merekomendasikannya kepada orang lain.
Konten tersebut kemudian dapat ditemukan oleh calon pelanggan baru dan kembali memulai siklus discovery. Inilah yang membuat social commerce memiliki hubungan erat dengan komunitas dan word-of-mouth.
Tren social commerce 2026

Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen terus membentuk cara bisnis berjualan melalui media sosial.
1. Live shopping semakin berkembang
Live shopping memungkinkan brand dan kreator berinteraksi langsung dengan audiens sambil memperkenalkan produk. Calon pelanggan dapat mengajukan pertanyaan, melihat demonstrasi produk, dan mendapatkan informasi secara real-time.
Format ini juga membuat pengalaman belanja terasa lebih interaktif dibanding sekadar melihat katalog produk.
2. Personalisasi dengan AI
AI semakin banyak digunakan untuk memberikan rekomendasi produk berdasarkan perilaku pengguna. Produk yang muncul dapat disesuaikan dengan konten yang ditonton, produk yang disukai atau disimpan, hingga riwayat pembelian.
Bagi bisnis, personalisasi seperti ini membuka peluang untuk menampilkan produk kepada audiens yang lebih relevan.
3. Creator-led commerce
Kreator tidak lagi hanya berperan sebagai pihak yang membantu meningkatkan awareness. Mereka semakin terlibat langsung dalam proses penjualan melalui affiliate, product tag, maupun konten yang dapat dibeli.
Pendekatan ini juga memungkinkan brand membangun hubungan jangka panjang dengan kreator yang memang memiliki audiens sesuai dengan target pasarnya.
4. Video pendek sebagai media penjualan
Video pendek menjadi salah satu format yang efektif untuk memperkenalkan produk dengan cara yang lebih menarik. Produk dapat ditampilkan melalui tutorial, demonstrasi, review, before-after, maupun konten hiburan yang tetap relevan dengan kebutuhan audiens.
Format ini membuat informasi produk dapat disampaikan secara singkat sekaligus menghibur.
5. Penggunaan augmented reality
Teknologi augmented reality (AR) memungkinkan calon pelanggan mencoba atau melihat gambaran produk secara virtual sebelum membeli. Misalnya, konsumen dapat mencoba tampilan makeup atau melihat bagaimana sebuah produk tertentu terlihat sebelum mengambil keputusan.
Pengalaman seperti ini dapat membantu meningkatkan keyakinan calon pelanggan, terutama untuk produk yang sulit dinilai hanya melalui foto.
6. Komunitas semakin berperan dalam keputusan pembelian
Konsumen semakin mempertimbangkan pengalaman orang lain sebelum membeli. Review, komentar, konten pelanggan, hingga rekomendasi dari kreator kecil dapat mempengaruhi persepsi terhadap suatu produk.
Karena itu, membangun komunitas yang aktif dapat menjadi bagian penting dari strategi social commerce, bukan sekadar mengejar jumlah followers.
Tips menerapkan social commerce
Agar social commerce dapat memberikan hasil yang optimal, bisnis dapat menerapkan beberapa langkah berikut.
1. Optimalkan etalase produk
Perlakukan profil dan katalog media sosial sebagai etalase digital. Pastikan setiap produk memiliki foto yang jelas, deskripsi informatif, harga, variasi, ukuran, dan informasi lain yang dibutuhkan calon pelanggan sebelum membeli.
Semakin lengkap informasi yang tersedia, semakin sedikit pertanyaan dasar yang harus dijawab secara manual oleh tim.
2. Buat konten yang sesuai dengan karakter platform
Jangan hanya memindahkan katalog atau iklan dari satu platform ke platform lainnya. Buat konten yang mengikuti format dan kebiasaan pengguna masing-masing platform.
Misalnya, video tutorial dapat digunakan untuk memperkenalkan cara penggunaan produk, sementara live shopping dapat dimanfaatkan untuk demonstrasi dan menjawab pertanyaan pelanggan secara langsung.
3. Kurangi hambatan dalam proses checkout
Perhatikan berapa banyak langkah yang harus dilakukan calon pelanggan sejak menemukan produk hingga menyelesaikan transaksi. Jika platform menyediakan fitur checkout langsung, manfaatkan fitur tersebut untuk membuat proses pembelian lebih sederhana.
Untuk platform yang belum mendukung checkout penuh, pastikan tautan pembelian atau instruksi pemesanan mudah ditemukan.
4. Bangun kerja sama dengan kreator
Pilih kreator berdasarkan relevansi audiens, bukan hanya jumlah followers. Kreator dengan audiens yang lebih kecil tetapi sesuai dengan target pasar bisnis dapat menghasilkan engagement dan kepercayaan yang lebih kuat.
Kerja sama jangka panjang juga dapat membuat promosi terasa lebih natural dibandingkan endorsement yang hanya dilakukan satu kali.
5. Respons pertanyaan pelanggan dengan cepat
Social commerce memiliki karakter yang sangat interaktif. Calon pelanggan dapat langsung bertanya mengenai ukuran, warna, stok, harga, maupun cara penggunaan produk melalui komentar atau chat.
Respons yang cepat dan informatif dapat membantu menghilangkan keraguan sebelum calon pelanggan meninggalkan halaman produk.
6. Pantau performa secara berkala
Jangan hanya melihat jumlah views atau likes. Perhatikan juga metrik yang berkaitan langsung dengan penjualan, seperti product clicks, conversion rate, jumlah pesanan, nilai transaksi, dan produk yang paling banyak dibeli.
Data tersebut dapat membantu bisnis mengetahui konten dan produk mana yang benar-benar menghasilkan penjualan, lalu mengalokasikan sumber daya ke strategi yang memberikan hasil paling baik.
Wujudkan strategi social commerce sesuai target dengan Mekari Desty!
Social commerce sangat efektif mendorong discovery dan menarik calon pembeli. Namun begitu closing terjadi, baik lewat TikTok Shop, DM Instagram, maupun chat WhatsApp, tantangan berikutnya adalah memastikan produk, stok, dan pesanan terkelola dengan rapi di balik layar.
Tanpa sistem yang terpusat, mengoordinasikan data produk dan stok antara berbagai channel social commerce dengan marketplace lain yang digunakan bisa menjadi proses yang rumit dan rawan kesalahan.
Mekari Desty adalah software omnichannel marketplace yang memudahkan seller untuk mengelola seluruh operasional social commerce dalam satu sistem. Berikut fitur yang relevan untuk mendukung strategi social commerce:
- Catalog Store: Tampilkan produk unggulan dalam satu halaman katalog yang praktis, memudahkan calon pembeli dari WhatsApp atau Instagram langsung melihat produk tanpa harus berpindah platform.
- WebStore: Miliki website toko online sendiri yang bisa didesain sesuai identitas brand, mendukung social commerce yang lebih profesional dan kredibel.
- 1-Page Checkout: Proses pembelian instan lewat satu halaman untuk meningkatkan konversi dan mengurangi hambatan saat calon pembeli siap bertransaksi.
- Buat Pesanan Manual: Rekap dan proses pesanan yang masuk dari media sosial seperti WhatsApp dan Instagram dalam satu tempat, tanpa risiko pesanan terlewat atau tidak tercatat.
- Sinkronisasi stok real-time lintas marketplace: Stok diperbarui otomatis di semua channel setiap kali terjadi penjualan, sehingga data ketersediaan produk selalu akurat di semua platform yang digunakan.
- Desty Chat: Kelola chat pelanggan dari berbagai channel dalam satu dashboard dengan fitur auto-reply dan asisten AI 24/7, membantu tim merespons lebih cepat tanpa harus berpindah aplikasi.
Mekari Desty menggunakan sistem top up atau bayar sesuai pemakaian per pesanan selesai, bukan subscription bulanan.
Model pembayaran ini membuat biaya lebih terjangkau karena menyesuaikan volume pesanan yang masuk setiap bulannya, bukan tarif tetap yang sama terlepas dari seberapa ramai channel social commerce bisnis berjalan.
Saatnya wujudkan strategi social commerce bisnis dengan operasional yang lebih rapi bersama Mekari Desty.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari Desty are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Desty is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.