14 mins read

Harbolnas Lintas Channel: Cara Menjaga Penjualan Tanpa Membuat Operasional Chaos

Diterbitkan
Diperbarui
strategi harbolnas featured image
Mekari Desty Highlights
  • Harbolnas adalah stress test operasional. Lonjakan order dapat meningkatkan tekanan pada inventory, warehouse, fulfillment, logistik, hingga customer service. Karena itu, persiapan harus mencakup forecasting dan kapasitas operasional, bukan hanya target penjualan.

  • Operasional lintas channel membutuhkan koordinasi dan visibilitas. Master campaign plan, sinkronisasi inventory, jalur eskalasi yang jelas, serta pengambilan keputusan berbasis risiko membantu bisnis menjaga operasional tetap terkendali saat volume transaksi meningkat.

  • Order Management System membantu bisnis mengelola kompleksitas order. Dengan Mekari Desty OMS, order dari berbagai marketplace dapat dikelola dalam satu sistem, sekaligus mendukung sinkronisasi inventory dan proses fulfillment agar bisnis lebih siap menghadapi lonjakan transaksi.

Harbolnas seperti 11.11 dan 12.12 adalah salah satu momen dengan potensi penjualan terbesar dalam setahun. Namun, bagi bisnis yang berjualan di banyak channel sekaligus, lonjakan transaksi bukan hanya persoalan bagaimana mendapatkan lebih banyak order.

Artikel ini disusun berdasarkan hasil interview dengan Victoria Mirah Harefa, yang biasa dipanggil Vicko, selaku E-commerce Operation Assistant Manager di Hebe Beauty Indonesia. Melalui pengalamannya menangani operasional e-commerce, Vicko membagikan perspektif praktis tentang bagaimana brand mempersiapkan dan menjalankan campaign lintas channel ketika volume transaksi meningkat secara signifikan.

Insight yang dibagikan mencakup bagaimana inventory, warehouse, logistik, teknologi, customer service, hingga pengambilan keputusan harus berjalan secara terkoordinasi agar lonjakan demand tidak berubah menjadi masalah operasional.

Dengan kata lain, keberhasilan Harbolnas tidak cukup diukur dari seberapa tinggi transaksi yang berhasil didapatkan. Campaign baru benar-benar berhasil ketika bisnis mampu memenuhi demand tersebut tanpa membuat operasional kehilangan kendali.

“Harbolnas itu ordernya bisa naik beberapa kali lipat. Sehingga memang ada risiko stock, keterlambatan pengiriman, dan kendala sistem. Jadi memang harus dipersiapkan dari awal, baik dari sisi forecasting, best seller, kapasitas warehouse, sampai kebutuhan manpower dan partner logistik.”

Pernyataan tersebut menjadi dasar penting untuk melihat Harbolnas dari perspektif yang berbeda. Campaign bukan hanya aktivitas untuk menciptakan demand, tetapi juga ujian apakah bisnis memiliki kapasitas untuk memenuhi demand tersebut.

Harbolnas bukan sekadar campaign, tetapi stress test operasional

Pada hari biasa, kesalahan kecil dalam forecasting atau proses fulfillment mungkin masih bisa ditangani. Tetapi ketika order melonjak beberapa kali lipat, masalah yang sama dapat berkembang menjadi krisis.

Marketing bisa saja sudah siap menjalankan campaign. Namun, jika stok tidak siap, tim sales akan kesulitan memenuhi demand. Sebaliknya, jika stok tersedia tetapi warehouse tidak mampu memproses order, customer tetap tidak akan menerima pesanannya tepat waktu.

Begitu pula jika warehouse siap tetapi sistem inventory tidak sinkron. Produk bisa terlihat tersedia di marketplace, padahal stok fisiknya sudah habis.

Karena itu, persiapan perlu dilakukan secara bersamaan. Forecasting perlu menggunakan data campaign sebelumnya, produk best seller harus dipastikan ketersediaannya, kapasitas warehouse perlu dihitung, kebutuhan SDM tambahan perlu diproyeksikan, dan partner logistik perlu dikoordinasikan sejak awal.

Campaign menghasilkan demand. Operasional menentukan apakah demand tersebut bisa dilayani.

1. Mulai dari satu master campaign plan

Salah satu masalah paling umum dalam campaign lintas channel adalah informasi yang terfragmentasi.

Shopee memiliki promo sendiri. Tokopedia memiliki mekanisme berbeda. Social commerce punya voucher berbeda. Harga dan stok juga dapat memiliki aturan masing-masing.

Jika setiap tim bekerja menggunakan brief atau informasi yang berbeda, potensi konflik semakin besar.

Karena itu, salah satu prinsip penting dalam eksekusi campaign lintas channel adalah memiliki satu master campaign plan yang menjadi sumber informasi bersama.

Master campaign plan setidaknya perlu memuat:

  • Jadwal campaign
  • Harga dan mekanisme promo
  • Voucher
  • Alokasi stok
  • Channel yang berpartisipasi
  • PIC setiap fungsi
  • Timeline eksekusi
  • Perubahan atau keputusan penting

Vicko menjelaskan bahwa seluruh tim perlu mengacu pada data yang sama, apa pun platform yang mereka tangani.

“Kita memang punya master campaign plan. Jadi semua tim, mau pegang platform apa pun, mereka mengacu pada data yang sama. Karena kalau tidak, bisa ada informasi yang berbeda-beda dan akhirnya customer juga bisa mendapatkan informasi yang berbeda.”

Masalah yang ingin dihindari sebenarnya lebih besar daripada sekadar spreadsheet yang tidak sinkron. Dalam campaign lintas channel, perbedaan informasi internal dapat berubah menjadi perbedaan pengalaman customer.

Jika satu channel menampilkan harga berbeda, informasi promo tidak sama, atau stok tidak sesuai, customer yang sama bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda tergantung dari channel yang digunakan.

Namun, ada satu hal yang tidak selalu dapat dikontrol oleh brand: dukungan dari masing-masing platform. Besarnya support campaign dari setiap marketplace dapat berbeda, sehingga brand tetap perlu membedakan antara faktor yang dapat dikontrol secara internal dan faktor eksternal yang harus dimitigasi.

2. Jangan perlakukan semua channel dengan effort yang sama

Memiliki banyak channel tidak berarti semua channel harus mendapatkan investasi yang sama besar.

Pada Harbolnas, keterbatasan resource menjadi semakin nyata. Tim tidak mungkin memberikan effort maksimal kepada semua channel secara bersamaan tanpa konsekuensi terhadap operasional.

Karena itu, yang perlu ditentukan bukan hanya channel mana yang digunakan, tetapi di mana effort dan investasi terbesar akan ditempatkan.

Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah kontribusi GMV atau transaksi dari masing-masing channel. Platform dengan kontribusi terbesar dapat menjadi prioritas untuk mendapatkan lebih banyak investasi dan effort. Sementara channel lainnya tetap dapat digunakan sebagai supporting atau presence channel.

Vicko menjelaskan:

“Kita lihat kontribusi GMV dari masing-masing platform. Kalau memang ada satu platform yang kontribusinya paling besar, di situlah kita akan naruh banyak investasi dan effort lebih. Tapi bukan berarti platform lain kita tinggalkan. Tetap ada presence, hanya saja effort-nya memang tidak harus sama.”

Pendekatan ini membuat strategi omnichannel menjadi lebih realistis.

Omnichannel bukan berarti equal channel. Omnichannel berarti hadir di banyak channel dengan prioritas resource yang berbeda.

3. Sinkronisasi stok adalah fondasi, bukan pekerjaan back office

Dalam campaign besar, inventory bukan sekadar angka yang harus dilaporkan. Inventory adalah informasi yang menentukan apakah sebuah order bisa dijanjikan kepada customer atau tidak.

Ketika brand menjual banyak SKU di banyak marketplace, pengecekan stok secara manual menjadi semakin sulit. Risiko overselling, stock discrepancy, dan keterlambatan update inventory pun meningkat.

Di sinilah Order Management System atau OMS menjadi semakin penting.

Menurut Vicko, sistem OMS menjadi salah satu teknologi yang paling krusial ketika bisnis memiliki banyak toko dan assortment SKU yang besar.

“OMS itu sangat penting karena akan membantu sinkronisasi stok kita. Kita punya banyak toko dan SKU yang banyak. Kalau kita harus cek satu-satu secara manual, itu pasti akan sangat memakan waktu. Dengan OMS, stok bisa tersinkron dan status order juga bisa ter-update secara real time.”

OMS membantu mengurangi pekerjaan manual dengan menyatukan informasi order dan inventory dari berbagai channel.

Namun, sinkronisasi stok bukan berarti semua channel harus selalu mendapatkan jumlah stok yang sama.

Brand tetap dapat melakukan stock allocation berdasarkan forecast dan kesiapan masing-masing channel. Dengan demikian, inventory dapat dikelola sebagai satu sumber data, sementara distribusi stok tetap dapat disesuaikan dengan strategi campaign.

Satu sumber inventory tidak berarti satu strategi inventory.

4. Forecasting harus menghitung kapasitas, bukan hanya demand

Kesalahan forecasting yang sering terjadi adalah hanya memperkirakan berapa banyak produk yang akan terjual.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Kalau demand benar-benar mencapai angka tersebut, apakah operasional kita mampu memenuhinya?”

Forecast Harbolnas seharusnya tidak berhenti pada estimasi penjualan. Forecast perlu diterjemahkan menjadi kebutuhan operasional.

Forecast order → kebutuhan stok → kapasitas warehouse → kebutuhan tenaga kerja → kapasitas pickup → kapasitas shipping → potensi customer service volume.

Jika forecast menunjukkan order akan naik tiga kali lipat, tetapi kapasitas packing hanya mampu meningkat 1,5 kali lipat, maka masalahnya sudah dapat diketahui sebelum campaign dimulai.

Karena itu, data campaign sebelumnya menjadi salah satu dasar penting untuk melakukan forecasting. Produk best seller perlu mendapatkan perhatian lebih besar, kapasitas warehouse perlu dihitung, kebutuhan SDM tambahan perlu diproyeksikan, dan partner logistik perlu diajak berkoordinasi sebelum campaign berlangsung.

Dengan pendekatan ini, forecasting berubah dari sekadar aktivitas sales planning menjadi capacity planning.

5. Tentukan jalur eskalasi sebelum krisis terjadi

Saat Harbolnas berlangsung, masalah tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali.

Sebuah produk bisa terlihat memiliki stok di sistem, tetapi tidak dapat dibeli customer. Pesanan bisa masuk, tetapi statusnya tidak berubah. Inventory bisa terlihat tersedia, tetapi ternyata sebagian stok sedang di-lock oleh platform.

Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan hanya orang yang mampu menyelesaikan masalah, tetapi jalur eskalasi yang jelas.

Tim perlu tahu:

  • Siapa PIC marketing?
  • Siapa PIC warehouse?
  • Siapa PIC inventory?
  • Siapa PIC platform?
  • Siapa PIC customer service?
  • Siapa yang mengambil keputusan ketika fungsi-fungsi tersebut tidak menemukan solusi?

Menurut Vicko, setiap PIC perlu sudah memahami tanggung jawab dan jalur komunikasinya sebelum campaign dimulai.

“Sebelum campaign kita sudah tahu masing-masing PIC siapa dan tugasnya apa. Jadi ketika ada issue, kita tidak lagi mencari-cari siapa yang harus handle. Kita tinggal langsung masuk ke PIC yang memang bertanggung jawab.”

Pendekatan ini terlihat sederhana, tetapi sangat penting ketika waktu menjadi faktor kritis.

Ketika order terus masuk setiap menit, kecepatan menemukan orang yang tepat sama pentingnya dengan kemampuan orang tersebut menyelesaikan masalah.

6. Saat krisis terjadi, cari sumber masalah sebelum mencari solusi

Salah satu insight paling menarik dari pengalaman operasional Vicko adalah bahwa tidak semua masalah yang terlihat sebagai masalah stok benar-benar disebabkan oleh stok.

Dalam salah satu kasus yang ia ceritakan, stok secara sistem dan aktual sebenarnya tersedia. Namun, customer tetap tidak dapat membeli produk tersebut.

Alih-alih langsung menganggap inventory bermasalah, tim melakukan identifikasi dari beberapa sisi:

  1. Memeriksa stok di sistem.
  2. Memastikan kondisi stok aktual.
  3. Menghubungi PIC warehouse.
  4. Menghubungi PIC platform.
  5. Mengidentifikasi apakah ada mekanisme platform yang menyebabkan stok tidak dapat dijual.

Ternyata, stok tersebut sedang di-lock oleh platform sebagai bagian dari komitmen campaign. Akibatnya, stok yang secara internal terlihat tersedia tidak dapat digunakan customer untuk bertransaksi.

Solusinya pun bukan sekadar “membuka stok”.

Tim harus mengambil keputusan yang memiliki konsekuensi bisnis, yaitu menurunkan produk dari campaign tertentu agar customer tetap dapat membeli.

Vicko menjelaskan prinsip pengambilan keputusannya:

“Kita lihat dulu root cause-nya apa. Kalau memang tidak bisa diselesaikan dari sisi sistem atau platform, kita harus lihat opsi yang ada dan risiko dari masing-masing opsi. Jadi bukan sekadar bagaimana caranya supaya campaign tetap jalan, tapi risiko mana yang paling kecil untuk bisnis dan customer.”

Inilah salah satu prinsip penting dalam operational decision-making: ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana, pilihan yang tersedia sering kali sama-sama memiliki konsekuensi.

Yang membedakan tim yang siap dan tidak siap adalah kemampuan untuk mengidentifikasi sumber masalah, menghitung dampak, lalu memilih risiko yang paling dapat diterima.

7. SLA pengiriman harus diprioritaskan berdasarkan urgency

Lonjakan order pada Harbolnas hampir selalu meningkatkan tekanan terhadap fulfillment.

Karena itu, semua order tidak selalu bisa diperlakukan dengan prioritas yang sama.

Order instant dan same day, misalnya, memiliki urgency lebih tinggi dibandingkan order dengan SLA pengiriman yang lebih panjang. Ketika volume meningkat jauh di atas forecast, tambahan tenaga kerja juga perlu disiapkan agar proses packing dan shipping tetap berjalan.

Namun, prioritas tersebut harus didukung oleh satu hal yang sangat mendasar: akurasi inventory.

Jika stok tidak sinkron, proses fulfillment akan melambat karena tim perlu melakukan pengecekan ulang. Sebaliknya, jika inventory tersinkron dengan baik, warehouse dapat bekerja dengan lebih cepat dan akurat.

Karena itu, SLA bukan hanya tanggung jawab tim logistik.

SLA adalah hasil dari rangkaian proses yang dimulai dari inventory accuracy, order management, warehouse capacity, hingga shipping coordination.

8. Customer experience dimulai sebelum keterlambatan terjadi

Keterlambatan pengiriman tidak selalu dapat dihindari, terutama ketika lonjakan order berada di luar ekspektasi.

Yang dapat dikendalikan adalah bagaimana brand mengelola ekspektasi customer.

Pendekatannya harus dimulai bahkan sebelum Harbolnas berlangsung.

Brand dapat memberikan informasi mengenai potensi peningkatan volume order melalui:

  • Broadcast chat
  • Banner di toko
  • Informasi estimasi pengiriman
  • Update status pesanan secara berkala

Vicko menjelaskan bahwa komunikasi perlu dilakukan sejak awal untuk memberi tahu customer mengenai kemungkinan lonjakan order dan waktu tunggu yang lebih panjang.

“Kita memang perlu memberikan informasi dari awal bahwa akan ada kemungkinan peningkatan volume order dan mungkin ada waktu tunggu yang lebih panjang. Jadi customer sudah punya ekspektasi. Kalau ada keterlambatan, kita juga bisa memberikan update dan kalau memang diperlukan, ada kompensasi tertentu untuk customer.”

Dengan pendekatan tersebut, customer experience tidak hanya bergantung pada apakah paket tiba tepat waktu.

Customer experience juga ditentukan oleh apakah brand:

memberi tahu, memberi kepastian, dan memberikan solusi ketika ekspektasi tidak terpenuhi.

9. Decision-maker harus punya otoritas untuk mengambil keputusan cepat

Semakin banyak fungsi yang terlibat dalam campaign, semakin besar kemungkinan muncul situasi yang tidak tercakup dalam SOP.

Karena itu, struktur koordinasi membutuhkan satu lapisan terakhir: decision-maker.

Ketika terjadi anomali yang belum pernah diprediksi sebelumnya, tim perlu mengetahui siapa yang memiliki otoritas untuk mengambil keputusan.

Tanpa decision-maker yang jelas, setiap fungsi dapat terus melakukan diskusi tanpa menghasilkan keputusan. Dalam situasi Harbolnas, keterlambatan keputusan dapat memiliki dampak langsung terhadap sales, customer experience, dan biaya operasional.

Karena itu, operational readiness tidak hanya berarti memiliki SOP.

Operational readiness juga berarti memiliki otoritas keputusan yang jelas ketika SOP tidak lagi cukup.

10. Ukur kesiapan Harbolnas dari kemampuan menanggung demand

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting sebelum Harbolnas bukan:

“Berapa besar target sales kita?”

Tetapi:

“Jika target tersebut tercapai, apakah kita siap menanggung konsekuensinya?”

Kesiapan dapat dilihat dari beberapa lapisan:

AreaPertanyaan yang perlu dijawab
DemandBerapa besar lonjakan order yang realistis?
InventoryApakah stok produk utama cukup dan akurat?
WarehouseApakah kapasitas picking dan packing mencukupi?
SDMApakah membutuhkan tenaga tambahan?
LogisticsApakah partner siap dengan volume tambahan?
TechnologyApakah inventory dan order dapat tersinkron real time?
Customer serviceApakah tim siap menghadapi peningkatan inquiry?
CommunicationApakah customer sudah mengetahui potensi keterlambatan?
Decision-makingSiapa yang mengambil keputusan ketika terjadi anomali?
Channel strategyDi mana effort dan investasi terbesar akan ditempatkan?

Harbolnas yang sukses bukan yang paling banyak menerima order

Harbolnas sering dipersepsikan sebagai kompetisi mendapatkan transaksi sebanyak-banyaknya.

Namun, dari perspektif operasional, ada definisi sukses yang lebih penting.

Campaign yang menghasilkan order besar tetapi berujung pada stockout, keterlambatan pengiriman, customer complaint, dan tim yang kewalahan belum tentu menghasilkan pertumbuhan yang sehat.

Sebaliknya, campaign yang mampu menangkap demand sekaligus menjaga inventory tetap akurat, warehouse tetap terkendali, order tetap terproses, customer tetap mendapatkan informasi, dan tim mampu mengambil keputusan ketika terjadi anomali menunjukkan bahwa bisnis memiliki operational maturity yang lebih kuat.

Dari pengalaman Vicko, kunci menjalankan Harbolnas lintas channel bukan terletak pada satu channel atau satu fitur tertentu. Kuncinya ada pada kemampuan menghubungkan campaign planning dengan operational execution.

Mulai dari master campaign plan, forecasting, sinkronisasi inventory, koordinasi lintas fungsi, hingga risk-based decision making, seluruh proses tersebut membutuhkan satu fondasi penting: data dan order yang terpusat serta dapat diakses oleh tim yang tepat.

Dari campaign planning ke order management

Ketika volume order masih kecil, mengelola pesanan dari marketplace satu per satu mungkin masih terasa memungkinkan. Namun, ketika bisnis sudah memiliki banyak channel, ribuan SKU, dan lonjakan order seperti saat Harbolnas, model kerja manual mulai menjadi bottleneck.

Tim harus berpindah dari satu dashboard ke dashboard lain, mencocokkan pesanan, mengecek stok, mencetak label, memastikan paket yang dikirim sesuai order, hingga memantau retur. Semakin tinggi volume transaksi, semakin besar pula peluang human error dan semakin sulit bagi tim mendapatkan gambaran operasional secara menyeluruh.

Di titik inilah Order Management System (OMS) bukan lagi sekadar alat untuk mengumpulkan order, tetapi menjadi bagian dari operational infrastructure.

Mekari Desty OMS membantu bisnis memusatkan pengelolaan order dan fulfillment dari berbagai channel dalam satu sistem, sehingga tim dapat mengurangi pekerjaan manual dan memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap operasional. Beberapa kapabilitas utamanya meliputi:

  • Order management terpusat
    Mengelola pesanan dari berbagai marketplace dalam satu dashboard, sehingga tim tidak perlu berpindah-pindah platform untuk memantau order.
  • Sinkronisasi inventory
    Menjaga informasi stok tetap tersinkron antar-channel secara real time untuk membantu mengurangi risiko overselling dan ketidaksesuaian stok.
  • Fulfillment yang lebih terstruktur
    Mendukung proses picking dan packing agar tim warehouse dapat memproses order dengan alur yang lebih terorganisir, terutama ketika volume pesanan meningkat.
  • Shipping dan outbound management
    Membantu tim mengelola proses pengiriman, termasuk pencetakan label dan pengecekan paket sebelum outbound, sehingga risiko kesalahan pengiriman dapat ditekan.
  • Pengelolaan retur
    Memudahkan bisnis menangani proses retur sebagai bagian dari keseluruhan order lifecycle, bukan sebagai proses terpisah dari order management.

Dengan menghubungkan order, inventory, warehouse, dan fulfillment dalam satu sistem, bisnis tidak harus mengatasi pertumbuhan volume transaksi dengan semakin banyak spreadsheet, dashboard, atau pekerjaan manual.

Sistemnya yang perlu dibuat mampu mengikuti pertumbuhan volume bisnis.

Siap menghadapi Harbolnas tanpa kehilangan kendali

Harbolnas memang akan selalu membawa lonjakan demand. Brand tidak dapat mengontrol seberapa besar customer akan merespons campaign, bagaimana algoritma marketplace bekerja, atau apakah volume order akan sesuai dengan forecast.

Namun, brand dapat mengontrol seberapa siap sistem operasionalnya menghadapi lonjakan tersebut.

Mulai dari memiliki master campaign plan, menentukan prioritas antar-channel, melakukan forecasting berbasis kapasitas, memastikan inventory tetap akurat, menetapkan jalur eskalasi, sampai mengambil keputusan berdasarkan risiko, semuanya membutuhkan satu hal yang sama: visibilitas dan kontrol terhadap order.

Jika order dari berbagai channel masih tersebar di banyak dashboard, semakin besar volume campaign, semakin besar pula kompleksitas yang harus ditanggung tim.

Sebaliknya, ketika order, inventory, fulfillment, dan proses pengiriman dapat dikelola dari satu sistem terpusat, tim memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menjaga operasional tetap terkendali ketika demand meningkat.

Mekari Desty membantu bisnis mengelola order lintas marketplace dalam satu dashboard, sekaligus menghubungkannya dengan inventory dan proses fulfillment. Dengan kemampuan memproses order secara terpusat, sinkronisasi stok, picking dan packing, shipping, hingga pengelolaan retur, bisnis dapat mengurangi pekerjaan manual dan menjaga proses operasional tetap akurat ketika volume transaksi meningkat.

Karena pada akhirnya, tujuan Harbolnas bukan sekadar mendapatkan lebih banyak order.

Tujuannya adalah mampu mengubah lonjakan order menjadi pertumbuhan, tanpa membiarkan kompleksitas operasional menghambat bisnis.