7 mins read

Strategi Charm Pricing: Pengertian, Jenis & Contohnya

Diterbitkan
Diperbarui
strategi charm pricing
Mekari Desty Highlights

  • Charm pricing adalah strategi penetapan harga yang menampilkan angka sedikit di bawah bilangan bulat, seperti Rp99.900 alih-alih Rp100.000, untuk memanfaatkan kecenderungan psikologis konsumen dalam mempersepsikan harga.
  • Banyak bisnis menerapkan strategi ini tanpa memahami dasar psikologisnya secara utuh, sehingga hasilnya kurang maksimal atau bahkan terasa manipulatif di mata pelanggan jika digunakan secara berlebihan.
  • Mekari Desty membantu bisnis menerapkan dan mengelola strategi harga serta promosi, termasuk charm pricing, secara terstruktur di berbagai channel penjualan sekaligus.

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa hampir semua label harga di toko, baik online maupun offline, berakhiran angka 99, 95, atau 9? Ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi charm pricing, yaitu teknik penetapan harga yang dirancang untuk mempengaruhi cara otak memproses angka dan persepsi nilai suatu produk.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari apa itu strategi charm pricing, alasan psikologis di balik efektivitasnya, jenis-jenis yang umum digunakan, kapan strategi ini sebaiknya diterapkan atau dihindari, studi kasus nyata, hingga cara menerapkannya secara efektif untuk bisnis Anda.

Apa itu charm pricing?

strategi charm pricing

Strategi charm pricing adalah taktik penetapan harga di mana produk atau layanan diberi harga sedikit di bawah bilangan bulat, biasanya berakhiran “99” atau “95”. Pendekatan ini memanfaatkan kecenderungan psikologis konsumen yang mempersepsikan harga tersebut lebih rendah dari nilai sebenarnya, karena fokus pada digit pertama yang terlihat, misalnya Rp39.900 dibanding Rp40.000.

Strategi ini juga dikenal sebagai odd pricing atau psychological pricing. Dalam konteks B2B, di mana nominal transaksi cenderung lebih besar, charm pricing tidak selalu menggunakan desimal, tetapi sering muncul dalam bentuk angka bulat yang sedikit di bawah batas tertentu, misalnya Rp990.000 dibanding Rp1.000.000.

Tujuan utama strategi charm pricing adalah membuat harga terlihat lebih menarik dan “terjangkau secara psikologis”, sehingga membantu mempercepat pengambilan keputusan pembelian. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan positioning brand, karena pada produk premium atau eksklusif, pendekatan ini bisa mempengaruhi persepsi nilai secara keseluruhan.

Mengapa charm pricing efektif secara psikologis?

Efektivitas charm pricing dapat dijelaskan melalui beberapa faktor psikologis berikut.

Left-digit effect (efek digit pertama)

Konsumen cenderung fokus pada digit pertama dari sebuah harga dan mempersepsikan produk tersebut berada di kelompok harga yang lebih rendah. Efek ini hanya bekerja jika digit pertama benar-benar berubah, misalnya Rp99.000 dibanding Rp100.000, bukan Rp99.500 dibanding Rp99.400 yang digit pertamanya tetap sama.

Anchoring bias (bias jangkar)

Orang cenderung mengandalkan informasi pertama yang mereka lihat sebagai acuan dalam mengambil keputusan. Saat melihat harga Rp99.900, otak secara otomatis memproses “di bawah Rp100.000”, yang membuat mereka lebih terdorong untuk membeli.

Perceived loss dan perceived gain

Konsumen sering kali lebih sensitif terhadap potensi kerugian dibanding keuntungan. Dalam konteks ini, harga bulat seperti Rp100.000 menjadi titik acuan, sementara harga Rp99.900 terasa seperti “lebih hemat”, meskipun selisihnya kecil. Hal ini menciptakan ilusi adanya keuntungan atau penghematan. 

Efek kelangkaan

Charm pricing sering dikombinasikan dengan pesan seperti “promo terbatas” atau “hanya hari ini”. Kombinasi ini memperkuat dorongan emosional untuk segera membeli, karena konsumen merasa bisa kehilangan kesempatan jika menunda. 

Social proof

Harga yang terlihat menarik cenderung mendorong lebih banyak pembelian. Ketika suatu produk terlihat laris karena harganya “menarik”, calon pembeli lain akan lebih terdorong untuk ikut membeli agar tidak merasa tertinggal. 

Data Insight

Efektivitas ini didukung data nyata. Harga yang berakhiran angka 99 tampil sekitar 24% lebih baik dibanding harga bulat. – Repricer.

Jenis-jenis strategi charm pricing

Strategi charm pricing berangkat dari konsep odd-even pricing, yaitu penggunaan angka untuk mempengaruhi persepsi harga. Berikut beberapa pendekatan yang umum digunakan. 

1. Odd pricing (harga ganjil)

Menetapkan harga yang berakhiran angka ganjil, seperti Rp19.900 atau Rp95.000, untuk menciptakan kesan lebih terjangkau. Inilah yang paling sering dimaksud ketika seseorang menyebut “charm pricing”.

2. Even pricing (harga genap)

Kebalikan dari odd pricing, menggunakan angka bulat seperti Rp20.000 atau Rp100.000 untuk memberi kesan bahwa produk memang bernilai tinggi, cocok untuk bisnis yang tidak ingin dipersepsikan sebagai “murah”.

3. Prestige pricing (harga prestise)

Menetapkan harga yang sangat tinggi untuk menciptakan eksklusivitas, sering menggunakan angka bulat namun terkadang juga memakai angka 9 dalam skala besar, misalnya tas branded seharga Rp 99.999.000, yang tetap terkesan sangat mahal.

4. Decimal pricing (harga berdesimal)

Umum digunakan pada industri dengan harga relatif rendah atau yang sering mengadakan promosi. Dalam praktik ritel, makna tiap angka desimal bisa berbeda: ,99 mengindikasikan harga reguler, ,95 mengindikasikan harga promo atau penawaran menarik, sementara ,97 kerap mengindikasikan harga clearance atau produk yang perlu segera terjual.

5. Rule of 100 (aturan 100)

Panduan untuk menentukan format diskon promosi. Untuk produk di bawah Rp1.500.000 (setara di bawah $100), gunakan persentase diskon (misalnya “diskon 20%”) karena terasa lebih besar. 

Untuk produk di atas nilai tersebut, gunakan nominal potongan harga (misalnya “potongan Rp500.000”) karena angka nominalnya terlihat lebih signifikan dibanding persentase kecil.

Kapan charm pricing efektif diterapkan?

Kapan charm pricing efektif diterapkan?

Efektivitas strategi charm pricing sangat bergantung pada jenis produk, target pasar, dan citra brand yang ingin dibangun.

Strategi ini paling efektif untuk produk dengan permintaan elastis, produk yang sering dibeli secara impulsif, serta bisnis yang ingin dikenal karena harga yang kompetitif. Dalam konteks ini, selisih kecil pada angka dapat memberikan dampak besar terhadap keputusan pembelian. Untuk membantu menilai kesesuaiannya, Anda bisa mengajukan pertanyaan sederhana: apakah bisnis Anda ingin dikenal karena harga, atau karena kualitas produk?

Sebaliknya, strategi charm pricing sebaiknya dihindari untuk produk luxury atau premium. Pada segmen ini, brand ingin menonjolkan kualitas, eksklusivitas, dan status, bukan kesan hemat atau “lebih murah”. Penggunaan harga dengan akhiran tertentu justru berpotensi menurunkan persepsi nilai.

Sebagai contoh, brand fashion mewah umumnya menampilkan produk terlebih dahulu, baru kemudian harga, serta menghindari penggunaan angka desimal. Pendekatan ini bertujuan menjaga fokus pelanggan pada kualitas dan pengalaman, bukan pada perbandingan harga.

Studi kasus penerapan charm pricing

Beberapa studi kasus nyata berikut menunjukkan seberapa besar dampak charm pricing terhadap keputusan pembelian konsumen.

Kegagalan JCPenney saat meninggalkan charm pricing

JCPenney sempat beralih ke strategi “fair and square pricing” dengan angka bulat, dengan asumsi pelanggan lebih menyukai harga yang lugas. Hasilnya, penjualan justru menurun tajam, memaksa mereka kembali menerapkan charm pricing seperti Rp19.900 dan Rp49.950, yang kemudian berhasil memulihkan performa penjualan.

Adopsi bertahap Walmart

Walmart yang sebelumnya lebih banyak menggunakan angka bulat (Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000) mulai mengadopsi harga berakhiran ,98 dan ,97 setelah analisis perilaku konsumen menunjukkan hasil yang lebih baik, termasuk peningkatan konversi dan daya saing harga.

Tips menerapkan strategi charm pricing secara efektif

Setelah memahami dasar dan studi kasusnya, berikut langkah yang bisa diterapkan agar strategi charm pricing di bisnis Anda berjalan efektif.

1. Uji coba dalam skala kecil 

Jangan langsung menerapkan charm pricing ke seluruh lini produk. Mulai dari beberapa produk saja, lalu ukur dampaknya secara terpisah dari faktor lain seperti diskon volume, agar hasilnya benar-benar mencerminkan efek dari charm pricing itu sendiri.

2. Pahami nilai dan preferensi pelanggan 

Pelajari demografi, perilaku, dan preferensi target pelanggan untuk menentukan apakah mereka lebih merespons kesan harga terjangkau atau justru kesan eksklusivitas.

3. Perhatikan strategi kompetitor

Amati bagaimana kompetitor di industri Anda menerapkan harga mereka, karena pola tersebut sering kali sudah teruji di pasar dengan skala yang lebih luas.

4. Jangan berlebihan dalam menerapkannya

Penggunaan charm pricing yang terlalu mencolok atau tidak konsisten dapat membuat pelanggan merasa dimanipulasi, yang justru menurunkan kepercayaan terhadap brand Anda.

5. Kombinasikan dengan strategi harga lain

Padukan charm pricing dengan taktik lain seperti price anchoring (menampilkan harga coret sebelum harga charm), bundling produk, atau penawaran beli satu gratis satu untuk memperkuat persepsi nilai tanpa mengorbankan margin.

Terapkan strategi charm pricing lebih mudah dengan Mekari Desty

Menentukan strategi charm pricing yang tepat hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan harga tersebut tetap konsisten di seluruh channel penjualan, mulai dari marketplace, toko online, hingga media sosial.

Sebagai platform omnichannel marketplace, Mekari Desty membantu bisnis mengelola harga dan promosi secara terpusat melalui fitur Manajemen Promosi. Dengan begitu, setiap penyesuaian strategi charm pricing dapat langsung diterapkan ke seluruh channel tanpa perlu update manual satu per satu.

Beberapa fitur unggulan Mekari Desty yang mendukung penerapan strategi ini antara lain: 

  • Promotion Stock: Kelola stok khusus untuk kebutuhan promosi di marketplace secara lebih praktis tanpa mengganggu stok utama.
  • Automated Promotion Stock Synchronization: Menjaga ketersediaan stok promo tetap sinkron secara otomatis selama campaign berlangsung, sehingga menghindari overselling atau ketidaksesuaian stok.
  • Promotion Stock Creation (Manual): Buat alokasi stok promosi secara fleksibel sesuai strategi campaign dan kebutuhan bisnis.
  • Store Discount: Atur diskon toko di marketplace agar produk terlihat lebih menarik dan kompetitif di mata pelanggan.
  • Automated Slash Price: Menampilkan harga coret secara otomatis untuk memperkuat persepsi promo dan meningkatkan daya tarik produk.
  • Slash Price Creation (Manual): Mengatur diskon secara mandiri pada produk tertentu sesuai strategi promosi yang ingin dijalankan.

Saatnya terapkan strategi harga yang lebih terukur dan konsisten di semua channel penjualan bersama Mekari Desty!

Referensi

DealHub. “Charm Pricing”

Meteroid. “Charm Pricing”

JWPM. “What Is Charm Pricing?”

Omnia Retail. “The Power of Charm Pricing: Boost Your Sales with Psychology”

Price2Spy. “Charm Pricing: The Science Behind Ending Prices in .99”

Repricer. “How To Use Pricing Psychology To Boost Amazon Sales”

FAQ

1. Apa itu charm pricing?

1. Apa itu charm pricing?

Charm pricing adalah strategi penetapan harga yang menampilkan angka sedikit di bawah bilangan bulat, seperti Rp99.900 alih-alih Rp100.000, untuk memanfaatkan persepsi psikologis konsumen terhadap harga.

2. Apa saja jenis-jenis strategi charm pricing?

2. Apa saja jenis-jenis strategi charm pricing?

Jenisnya meliputi odd pricing, even pricing, prestige pricing, decimal pricing dengan makna berbeda di tiap angka desimal, serta Rule of 100 untuk menentukan format diskon.

3. Kapan sebaiknya charm pricing tidak digunakan?

3. Kapan sebaiknya charm pricing tidak digunakan?

Charm pricing sebaiknya dihindari untuk produk luxury atau premium yang ingin dipersepsikan eksklusif, serta perlu disesuaikan dengan preferensi budaya di pasar tertentu yang lebih menyukai angka bulat.

4. Bagaimana Mekari Desty membantu penerapan strategi charm pricing?

4. Bagaimana Mekari Desty membantu penerapan strategi charm pricing?

Mekari Desty membantu bisnis mengatur dan memperbarui harga serta promosi, termasuk charm pricing, secara terpusat ke seluruh marketplace dan channel penjualan yang terhubung melalui fitur Manajemen Promosi.