- Stock on hand adalah jumlah barang yang benar-benar ada secara fisik di gudang atau toko pada waktu tertentu, dihitung dari stok awal ditambah barang masuk dan dikurangi barang keluar.
- Stock on hand belum tentu sama dengan stok yang bisa dijual. Barang yang sudah dipesan pembeli tetapi belum dikirim masih berada di gudang, sehingga stok tersedia perlu dihitung dengan mengurangi stok yang sudah dipesan.
- Mekari Desty adalah platform omnichannel marketplace yang memperbarui stok otomatis setiap ada transaksi di berbagai marketplace, sehingga stock on hand dan stok tersedia di setiap toko tetap sinkron tanpa hitung manual.
Pernah mengecek gudang dan menemukan jumlah barang berbeda dengan angka di sistem atau di aplikasi marketplace? Selisih seperti ini sering bermula dari satu istilah yang dipahami berbeda, yaitu stock on hand. Angka ini menjadi dasar untuk menentukan kapan harus restock, berapa yang bisa dijual, dan apakah stok di toko online sudah benar.
Artikel ini membahas arti stock on hand, rumus dan contoh perhitungannya, perbedaannya dengan stok tersedia, penyebab angka stok tidak sinkron di marketplace, hingga cara memakainya untuk menentukan waktu restock.

Apa itu stock on hand?
Stock on hand (SOH) adalah jumlah barang yang secara fisik ada di tempat penyimpanan bisnis pada waktu tertentu, baik di gudang maupun di toko. Jumlah ini dapat menunjukkan total persediaan, stok berdasarkan produk atau SKU, maupun stok pada lokasi tertentu.
Ketidakakuratan catatan inventori dapat berdampak pada kinerja bisnis ritel.
SOH dapat dilihat pada beberapa level, yaitu total seluruh persediaan, per produk (SKU), atau per lokasi seperti gudang A dan gudang B. Bagi seller online, melihat SOH per gudang penting karena stok di satu lokasi belum tentu bisa langsung memenuhi pesanan dari lokasi lain.
Rumus dan contoh menghitung stock on hand
Stock on hand dapat dihitung dengan menjumlahkan stok awal dan seluruh barang yang masuk, kemudian menguranginya dengan barang yang keluar selama periode tertentu. Anda dapat menggunakan rumus berikut:
Stock on Hand = Stok Awal + Barang Masuk − Barang Keluar
Barang masuk mencakup pembelian dari supplier, produksi, dan retur pelanggan yang layak dijual. Barang keluar mencakup penjualan, sampel, serta barang rusak atau hilang yang sudah dikeluarkan dari stok. Berikut contoh untuk Produk A selama satu bulan (30 hari):
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Stok awal | 120 unit |
| Barang masuk dari supplier | 80 unit |
| Retur layak jual | 5 unit |
| Barang keluar (terjual) | 150 unit |
Stock on Hand = 120 + 80 + 5 − 150 = 55 unit
Berdasarkan perhitungan tersebut, stock on hand Produk A adalah 55 unit. Artinya, setelah memperhitungkan stok awal, barang yang masuk, retur yang layak jual, dan barang yang terjual selama periode tersebut, masih terdapat 55 unit Produk A secara fisik di gudang.
Stock on hand vs stok tersedia vs stok dalam perjalanan
Angka SOH sebesar 55 unit tidak berarti Anda bisa menjual 55 unit. Ada beberapa istilah stok yang perlu dibedakan agar tidak terjadi overselling.
Stock on hand tidak selalu sama dengan available quantity karena sebagian stok fisik mungkin sudah dialokasikan untuk pesanan. Perbedaan stock on hand, stok dipesan, stok tersedia, dan stok dalam perjalanan dapat dilihat berikut ini.
| Aspek | Stock on hand | Stok dipesan (reserved/allocated) | Stok tersedia (available stock) | Stok dalam perjalanan (in transit/on order) |
|---|---|---|---|---|
| Arti | Semua barang yang ada secara fisik di gudang | Barang yang sudah dibeli pelanggan tetapi belum dikirim | Stok yang masih bisa dijual, yaitu stock on hand dikurangi stok dipesan | Barang yang sudah dipesan ke supplier atau sedang transfer antar-gudang |
| Posisi barang | Ada di gudang | Masih ada di gudang | Ada di gudang | Belum diterima di gudang |
| Termasuk SOH? | Ya | Ya | Sebagian | Tidak |
| Bisa dijual ke pembeli baru? | Sebagian | Tidak, sudah dialokasikan ke pesanan | Ya | Belum, menunggu barang diterima |
| Contoh pada Produk A | 55 unit | 12 unit | 43 unit (55 − 12) | 40 unit |
Melanjutkan contoh sebelumnya, jika 12 unit Produk A sudah dipesan tetapi belum dikirim, maka dari 55 unit stock on hand hanya 43 unit yang tersedia untuk dijual. Sementara itu, 40 unit yang masih dalam perjalanan dari supplier belum termasuk SOH karena belum diterima di gudang.
Karena itu, stok yang ditampilkan di marketplace sebaiknya menggunakan stok tersedia, bukan SOH, untuk mencegah overselling.
Mengapa stock on hand di marketplace sering berbeda dengan stok fisik?
Perbedaan antara stok fisik, pencatatan di sistem, dan stok yang tampil di marketplace dapat terjadi karena beberapa hal berikut:
1. Pesanan masuk bersamaan dari banyak channel
Saat promo atau kampanye, pesanan dapat datang dari beberapa marketplace dalam waktu hampir bersamaan. Jika stok diperbarui manual di tiap toko, jeda update dapat membuat stok yang tampil lebih tinggi dari stok sebenarnya.
2. Retur dan pembatalan belum diproses
Barang retur yang sudah kembali ke gudang tetapi belum dicatat membuat sistem menampilkan angka lebih rendah dari kondisi fisik. Sebaliknya, pesanan yang dibatalkan tetapi stoknya belum dikembalikan juga menimbulkan selisih.
3. Barang rusak atau hilang tidak dicatat
Barang yang ditemukan rusak, cacat, atau hilang di gudang masih terhitung sebagai stok jika tidak segera disesuaikan, sehingga SOH di sistem lebih tinggi dari stok layak jual.
4. Stok tersebar di beberapa gudang
Jika Anda memiliki lebih dari satu gudang, SOH total bisa terlihat cukup, padahal stok di gudang yang dipakai untuk pengiriman sudah menipis. Tanpa pencatatan per lokasi, selisih ini baru terlihat saat pesanan sulit dipenuhi.
5. Produk bundling tidak ikut berkurang
Satu paket bundling terdiri dari beberapa produk. Jika stok produk komponennya tidak ikut berkurang saat paket terjual, SOH per produk menjadi tidak akurat.
Cara memakai stock on hand untuk menentukan waktu restock
SOH paling berguna ketika dipakai untuk memutuskan kapan dan berapa banyak restock. Dua hitungan sederhana berikut dapat dipakai.
1. Hitung stock cover (sisa hari stok)
Stock Cover = Stok Tersedia ÷ Rata-rata Penjualan per Hari
Pada contoh Produk A, penjualan 150 unit dalam 30 hari berarti rata-rata 5 unit per hari. Maka stock cover = 43 ÷ 5 = sekitar 8,6 hari. Artinya stok tersedia hanya cukup untuk sekitar sembilan hari penjualan.
2. Tentukan reorder point
Reorder Point = (Rata-rata Penjualan per Hari × Lead Time) + Stok Pengaman
Jika lead time supplier 7 hari dan stok pengaman 10 unit, maka reorder point = (5 × 7) + 10 = 45 unit. Stok tersedia saat ini adalah 43 unit, sudah di bawah 45, sehingga sudah waktunya memesan ulang. Karena sudah ada 40 unit dalam perjalanan, Anda bisa mempertimbangkan jumlah pesanan tambahan dengan memperhitungkan stok yang sudah dipesan tersebut.
Angka penjualan per hari dapat berubah saat musim promo, jadi hitung ulang secara berkala, terutama sebelum kampanye besar.
Tips menjaga stock on hand tetap akurat
Selisih stok dapat dicegah dengan kebiasaan pencatatan yang rapi. Berikut lima tips yang bisa diterapkan agar SOH tetap sesuai dengan kondisi fisik di gudang:
1. Catat setiap pergerakan stok
Setiap barang masuk, keluar, retur, dan transfer antar-gudang dan penyesuaian stok perlu tercatat, termasuk pesanan yang dibatalkan dan stoknya harus dikembalikan.
Satu transaksi yang terlewat sudah cukup membuat SOH di sistem berbeda dengan kondisi fisik, dan selisih kecil yang menumpuk setiap hari akan sulit ditelusuri. Pencatatan yang rapi juga menghasilkan riwayat pergerakan stok yang bisa dilacak saat terjadi selisih.
2. Pisahkan stok dipesan dari stok tersedia
Pastikan angka yang tampil ke pembeli adalah stok tersedia, yaitu SOH dikurangi stok dipesan, bukan SOH itu sendiri. Pada contoh Produk A, SOH sebesar 55 unit, tetapi stok yang boleh tampil di marketplace hanya 43 unit karena 12 unit sudah dialokasikan untuk pesanan.
Dengan begitu pesanan baru tidak masuk untuk barang yang sebenarnya sudah dialokasikan, sehingga risiko overselling dan pembatalan pesanan berkurang.
3. Lakukan stock opname berkala
Cocokkan SOH di sistem dengan hasil hitung fisik secara rutin, misalnya setiap bulan atau setiap kuartal, dan lebih sering untuk produk yang laris. Jika ada selisih, telusuri riwayat pergerakan stok untuk mengetahui penyebabnya, seperti retur yang belum diproses, barang rusak, atau salah input, sebelum menyesuaikan angka di sistem.
Dengan begitu penyebab selisih ikut diperbaiki, bukan hanya angkanya. Catat juga selisih dari tiap stock opname agar pola kesalahan yang berulang dapat terlihat.
4. Prioritaskan produk yang paling cepat bergerak
Produk dengan penjualan tinggi lebih sering keluar dan masuk sehingga lebih rentan selisih, dan dampaknya lebih besar karena stoknya cepat habis. Kelompokkan produk berdasarkan kecepatan penjualan, lalu hitung produk terlaris lebih sering, misalnya mingguan, sedangkan produk yang jarang terjual cukup dicek secara periodik.
Cara ini menghemat waktu penghitungan tanpa mengorbankan akurasi pada produk yang paling berpengaruh terhadap penjualan.
5. Gunakan sistem yang tersinkron untuk semua channel
Pencatatan manual masih memungkinkan saat produk dan channel masih sedikit. Namun, ketika pesanan datang dari banyak marketplace, memperbarui stok satu per satu memakan waktu dan rawan human error.
Sistem inventaris yang tersinkron memperbarui stok di semua channel secara otomatis setiap ada transaksi, mencatat riwayat perubahannya, dan mendukung pengelolaan stok per gudang. Dengan begitu tim dapat fokus pada keputusan seperti kapan harus restock.
Kelola stock on hand lebih akurat dengan Mekari Desty
Menghitung stock on hand secara manual masih memungkinkan saat produk dan toko belum banyak. Namun, ketika pesanan masuk dari beberapa marketplace sekaligus, setiap barang masuk, keluar, dan retur harus dicatat tanpa terlewat. Satu transaksi yang luput saja bisa membuat SOH di sistem berbeda dengan kondisi di gudang dan stok yang tampil di marketplace.
Mekari Desty hadir sebagai platform omnichannel marketplace yang membantu seller memperbarui stok dari seluruh channel penjualan secara otomatis melalui fitur sistem manajemen inventory. Stok diperbarui setiap kali ada transaksi, sehingga angka stok di setiap toko tetap mengikuti kondisi terbaru. Berikut fitur yang mendukungnya:
- Sinkronisasi stok otomatis lintas marketplace: Stok langsung berkurang setiap ada penjualan di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Lazada, dan channel lainnya, tanpa perlu update manual di tiap toko.
- Pengelolaan stok multi-gudang: Pantau stok di beberapa lokasi sekaligus melalui sistem manajemen gudang, termasuk transfer antar-gudang dan pengaturan rak.
- Pengembalian stok otomatis dari retur: Barang retur yang diproses di sistem langsung dikembalikan ke stok, sehingga jumlah persediaan tetap akurat.
- Penyesuaian stok satuan dan massal: Perbarui jumlah stok dengan cepat, misalnya saat ada barang rusak yang perlu dipisahkan dari stok siap jual.
- Stock opname terintegrasi: Buat dokumen stock opname siap cetak dari sistem, lalu perbarui stok gudang setelah penghitungan fisik selesai.
- Laporan inventori dan estimasi stok habis: Pantau stok per kategori dan produk, serta ketahui produk yang mendekati habis melalui manajemen laporan, sehingga restock dapat direncanakan lebih awal.
Mekari Desty tidak menerapkan biaya langganan bulanan. Dengan skema pay as you grow, seller cukup top up saldo dan biaya hanya dipotong untuk setiap pesanan yang selesai. Pengelolaan stok dari semua marketplace pun tetap terjangkau, mengikuti volume penjualan bisnis.
Saatnya kelola stock on hand dari semua marketplace lebih akurat dan otomatis bersama Mekari Desty.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari Desty are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Desty is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.