5 mins read

6 Contoh Barcode yang Umum Dipakai Bisnis di Indonesia

Diterbitkan
Diperbarui
contoh barcode
Mekari Desty Highlights

  • Barcode adalah simbol yang dapat dibaca mesin, dirancang untuk menyimpan data guna mendukung berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari identifikasi produk hingga pelacakan pengiriman.
  • Penggunaan barcode berdampak signifikan terhadap akurasi bisnis, terbukti dari barcode scanning yang memiliki tingkat akurasi hingga 1 dari 3 juta pemindaian, dibanding pencatatan manual yang berisiko salah 1 dari 300 entri.
  • Mekari Desty membantu seller mengelola data produk berbasis barcode secara terpusat, sehingga informasi produk tetap konsisten di seluruh marketplace yang terhubung.

Hampir setiap produk yang kita beli sehari-hari memiliki barcode, namun tidak semua orang tahu bahwa ada berbagai jenis barcode dengan fungsi yang berbeda-beda. Memahami jenis barcode yang tepat menjadi penting bagi bisnis, terutama saat menentukan kode produk yang akan digunakan sebelum diunggah ke marketplace.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari apa itu barcode dan kenapa bisnis perlu menggunakannya, jenis-jenis barcode berdasarkan bentuknya, contoh barcode yang umum digunakan bisnis di Indonesia, hingga cara memilih jenis yang tepat untuk kebutuhan Anda.

center banner mekari desty

Apa itu barcode dan mengapa bisnis perlu menggunakannya?

Apa itu barcode dan mengapa bisnis perlu menggunakannya?

Barcode adalah simbol yang dapat dibaca mesin dan digunakan untuk menyimpan serta mengidentifikasi data produk secara otomatis. Teknologi ini membantu bisnis mempercepat proses kerja, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Cara kerjanya cukup sederhana. Scanner membaca pola garis atau kode pada barcode yang merepresentasikan angka, huruf, atau karakter tertentu, lalu mengirimkan informasi tersebut ke sistem untuk diproses, seperti pencatatan stok atau transaksi.

Data Insight

  • Pencatatan manual memiliki tingkat kesalahan sekitar 1 dari 300 entri, sementara barcode scanning memiliki akurasi hingga 1 dari 3 juta pemindaian, peningkatan hingga 10.000 kali lipat. – Descartes Finale. 
  • Penggunaan barcode scanner juga dapat meningkatkan akurasi inventaris dari 63% menjadi 99,9%. – YCR. 

Data tersebut menunjukkan bahwa barcode bukan sekadar alat bantu, tetapi berperan besar dalam meningkatkan ketepatan dan efisiensi operasional bisnis.

Berikut beberapa alasan lain mengapa bisnis, termasuk seller online, perlu menggunakan barcode:

  • Mempermudah pendaftaran produk di marketplace: Sebagian marketplace memungkinkan pengambilan data produk secara otomatis saat barcode/GTIN dimasukkan, mempercepat proses input katalog.
  • Mempermudah manajemen inventaris: Barcode memungkinkan pembaruan stok secara otomatis setiap kali terjadi transaksi, tanpa perlu pencatatan terpisah, terutama penting bagi seller yang berjualan di banyak channel sekaligus.
  • Mengurangi kesalahan identifikasi produk: Setiap produk memiliki kode unik, sehingga risiko salah kirim produk atau kesalahan identifikasi varian dapat diminimalkan.
  • Mendukung pelacakan produk yang lebih baik: Barcode membantu bisnis melacak pergerakan produk, mulai dari gudang hingga sampai ke tangan pelanggan di marketplace mana pun mereka membeli.

Jenis-jenis barcode berdasarkan bentuknya

Jenis-jenis barcode berdasarkan bentuknya

Sebelum membahas contoh barcode yang relevan untuk bisnis di Indonesia, penting memahami dua kategori utama barcode berdasarkan bentuknya.

Barcode 1D (linear)

Barcode 1D memiliki bentuk garis-garis vertikal sejajar yang merepresentasikan data dalam format sederhana. Jenis ini paling umum digunakan pada produk retail, label harga, hingga kemasan logistik. Karena kapasitas penyimpanannya terbatas, barcode 1D biasanya hanya berisi informasi dasar seperti kode produk atau nomor identifikasi. 

Barcode 2D (matrix)

Barcode 2D berbentuk pola kotak atau grid (seperti QR code) dan mampu menyimpan data dalam jumlah yang jauh lebih besar. Informasi yang disimpan bisa berupa tautan website, detail produk, nomor batch, hingga tanggal kedaluwarsa. Barcode jenis ini mulai dikembangkan sejak akhir 1980-an untuk menjawab kebutuhan penyimpanan data yang lebih kompleks dalam ruang yang lebih kecil. 

Contoh barcode yang umum digunakan bisnis di Indonesia

Contoh barcode

Berikut beberapa contoh barcode yang paling relevan digunakan oleh bisnis di Indonesia, berdasarkan fungsinya masing-masing.

1. EAN-13

Barcode linear dengan 13 digit yang menjadi standar utama untuk produk retail di Indonesia. Jenis ini paling sering ditemukan pada kemasan produk di minimarket, supermarket, maupun marketplace. Berbeda dengan UPC-A yang digunakan di Amerika Utara, EAN-13 adalah standar yang berlaku secara global, termasuk di Indonesia. 

2. EAN-8

Versi ringkas dari EAN-13 dengan 8 digit. Biasanya digunakan pada produk berukuran kecil yang tidak memiliki cukup ruang untuk barcode standar, seperti produk sachet atau kemasan mini.

3. Code 128

Barcode linear dengan kepadatan tinggi yang mampu menyimpan lebih banyak karakter dibanding EAN. Umumnya digunakan dalam industri logistik dan distribusi, seperti untuk label pengiriman atau identifikasi barang di gudang. 

4. ITF-14

Barcode yang digunakan pada kemasan besar seperti kardus atau karton. Biasanya tidak dipindai di kasir, melainkan untuk kebutuhan distribusi dan pelacakan barang antar gudang. 

5. QR Code

Barcode 2D yang sangat populer di Indonesia. Selain untuk identifikasi produk, QR Code banyak digunakan untuk pembayaran digital (QRIS), menu digital, hingga mengarahkan pelanggan ke website atau informasi produk.

6. Data Matrix

Barcode 2D dengan kemampuan menyimpan data dalam jumlah besar dalam ukuran kecil. Umumnya digunakan pada industri yang membutuhkan detail tambahan, seperti nomor batch, tanggal produksi, atau informasi produk pada kemasan terbatas. 

Cara memilih jenis barcode yang tepat untuk bisnis 

Jenis barcode yang Anda butuhkan bergantung pada apa yang ingin diidentifikasi, di mana barcode tersebut akan dipindai, dan seberapa banyak informasi yang perlu dimuat, 

Berikut beberapa pertimbangan yang bisa membantu Anda menentukan pilihan.

  • Untuk produk retail yang dijual di toko maupun marketplace: EAN-13 menjadi titik awal yang tepat untuk sebagian besar produk retail yang dijual di Indonesia, dan umumnya sudah dikenali otomatis oleh sistem marketplace.
  • Untuk kemasan berukuran kecil: Pertimbangkan EAN-8 jika produk Anda tidak memiliki cukup ruang untuk barcode berukuran penuh.
  • Untuk kebutuhan distribusi dan logistik: ITF-14 atau Code 128 lebih sesuai untuk mengidentifikasi karton maupun kemasan besar yang bergerak melalui rantai pasok, bukan dipindai langsung di kasir atau saat checkout marketplace.
  • Untuk kebutuhan data tambahan atau keterlibatan pelanggan: QR Code maupun Data Matrix lebih cocok jika Anda ingin menyertakan informasi tambahan, seperti tautan website, nomor batch, atau tanggal kedaluwarsa.

Kelola data produk berbasis barcode lebih konsisten dengan Mekari Desty

Memilih jenis barcode yang tepat hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan barcode tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk menjaga akurasi operasional, terutama saat pesanan dari berbagai marketplace perlu diproses dan dikirim setiap hari.

Tanpa pemindaian yang terstruktur, proses picking dan packing berisiko keliru mengambil produk atau varian yang salah, terutama saat volume pesanan sedang tinggi.

Mekari Desty adalah aplikasi omnichannel marketplace yang memanfaatkan barcode produk Anda untuk mendukung akurasi proses pengiriman melalui fitur Sistem Manajemen Order, dengan kapabilitas berikut:

  • Pencocokan pesanan dan scan paket, memastikan produk yang diambil dan dikemas sesuai dengan detail pesanan sebelum dikirim.
  • Proses picking dan packing terstandar, mengurangi kesalahan saat menyiapkan pesanan dari berbagai marketplace sekaligus.
  • Cetak label pengiriman secara massal, mempercepat proses outbound untuk pesanan dalam jumlah banyak.

Dengan begitu, barcode yang sudah Anda pasang pada produk tidak hanya berguna saat pendaftaran katalog, tetapi juga membantu memastikan setiap pesanan sampai ke tangan pelanggan dengan produk yang tepat.

Saatnya manfaatkan barcode produk Anda untuk proses pengiriman yang lebih akurat bersama Mekari Desty!

References and methodology

Methodology

Methodology

Articles published by Mekari Desty are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.

Our editorial standards

Our editorial standards

  • Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
  • Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
  • No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Desty is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
  • Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References

References

Descartes Finale. “Barcode Inventory System ROI Guide”
YCR. “Benefits of Barcode Scanners for Retail and Hospitality”

FAQ

1. Apa itu barcode?

1. Apa itu barcode?

Barcode adalah simbol yang dapat dibaca mesin, dirancang untuk menyimpan data guna mendukung berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari identifikasi produk hingga pelacakan pengiriman.

2. Apa perbedaan barcode 1D dan 2D?

2. Apa perbedaan barcode 1D dan 2D?

Barcode 1D berupa garis vertikal sejajar dengan kapasitas data terbatas, sementara barcode 2D berupa pola kotak atau grid yang dapat menyimpan data jauh lebih banyak, seperti tautan website atau nomor batch.

3. Apa contoh barcode yang paling umum digunakan di Indonesia?

3. Apa contoh barcode yang paling umum digunakan di Indonesia?

EAN-13 adalah barcode yang paling umum ditemui pada produk retail di Indonesia, bukan UPC-A yang merupakan standar khas Amerika Utara.

4. Kapan sebaiknya menggunakan QR Code dibanding barcode biasa?

4. Kapan sebaiknya menggunakan QR Code dibanding barcode biasa?

QR Code lebih cocok digunakan jika Anda ingin menyertakan informasi tambahan seperti tautan website, menu digital, atau pembayaran digital, dibanding barcode 1D yang hanya menyimpan kode produk sederhana.

5. Bagaimana cara memilih jenis barcode yang tepat untuk bisnis?

5. Bagaimana cara memilih jenis barcode yang tepat untuk bisnis?

Pertimbangkan jenis produk yang dijual, apakah dipindai langsung di kasir/marketplace atau untuk kebutuhan distribusi, ukuran kemasan, serta apakah dibutuhkan data tambahan seperti nomor batch atau tanggal kedaluwarsa.

6. Bagaimana Mekari Desty membantu seller mengelola data produk berbasis barcode?

6. Bagaimana Mekari Desty membantu seller mengelola data produk berbasis barcode?

Mekari Desty membantu seller mengelola data produk, termasuk kode barcode atau SKU, melalui Master Product, sehingga data tetap konsisten di seluruh marketplace yang terhubung tanpa perlu input ulang satu per satu.