- Kode inventaris barang adalah rangkaian karakter alfanumerik unik yang ditetapkan pada setiap item persediaan, berfungsi sebagai identitas yang memudahkan pelacakan lokasi.
- Kode inventaris yang dibuat sendiri untuk keperluan internal berbeda dari kode universal seperti EAN atau UPC yang diterbitkan lembaga standar global.
- Mekari Desty adalah software omnichannel marketplace yang membantu seller mengelola data produk termasuk kode inventaris secara terpusat melalui Master Product, sehingga perubahan yang dilakukan langsung diterapkan secara konsisten ke seluruh marketplace yang terhubung tanpa risiko duplikasi atau ketidaksesuaian data.
Mengelola ribuan produk tanpa sistem penamaan yang jelas dapat membuat pencatatan stok menjadi berantakan, terutama ketika bisnis memiliki banyak varian produk atau berjualan di beberapa marketplace.
Kode inventaris barang membantu setiap produk memiliki identitas yang jelas sehingga lebih mudah dicatat, dilacak, dan dikelola.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari apa itu kode inventaris barang, perbedaannya dengan kode universal seperti EAN dan UPC, jenis-jenisnya, fungsi, cara membuat, hingga contoh penerapannya di berbagai industri.

Apa itu kode inventaris barang?

Kode inventaris barang adalah rangkaian karakter alfanumerik unik yang digunakan untuk memberikan identitas pada setiap item dalam persediaan. Kode ini dibuat agar setiap barang dapat dibedakan dengan mudah, terutama ketika bisnis memiliki banyak produk, varian, atau lokasi penyimpanan.
Dalam pengelolaan stok, kode inventaris dapat digunakan untuk membantu melacak berbagai informasi penting, seperti jumlah barang yang tersedia, lokasi penyimpanan, jenis produk, hingga pergerakan stok. Dengan adanya kode yang jelas, tim tidak perlu mengandalkan nama produk yang terkadang panjang atau memiliki banyak variasi saat mencari dan mencatat barang.
Kode ini juga membantu menyamakan identifikasi barang di berbagai bagian bisnis. Tim gudang, pembelian, penjualan, maupun administrasi dapat menggunakan kode yang sama ketika mencatat transaksi atau mencari informasi produk. Hal ini membuat proses pencatatan lebih konsisten dan mengurangi risiko barang tertukar, salah input, maupun perbedaan data antara stok fisik dan sistem.
Kode internal vs kode universal
Kode inventaris internal dan kode universal sama-sama digunakan untuk mengidentifikasi produk, tetapi memiliki fungsi dan cakupan yang berbeda.
| Aspek | Kode Inventaris Internal | Kode Universal |
|---|---|---|
| Contoh | SKU | EAN, UPC |
| Pembuat | Dibuat sendiri oleh bisnis | Mengikuti standar GS1 |
| Penggunaan | Pengelolaan stok internal | Identifikasi produk secara global |
| Sifat | Unik untuk masing-masing bisnis | Berlaku untuk produk tertentu secara luas |
| Fungsi utama | Mengelola persediaan dan operasional | Identifikasi produk di berbagai sistem atau platform |
Dalam praktiknya, bisnis dapat menggunakan keduanya secara bersamaan. Kode universal membantu identifikasi produk di berbagai platform, sedangkan kode inventaris internal digunakan untuk mengatur stok sesuai kebutuhan operasional bisnis.
Jenis-jenis kode inventaris barang

Berikut beberapa jenis kode inventaris barang yang umum digunakan:
1. Kode numerik
Kode numerik hanya menggunakan angka untuk membedakan setiap barang, misalnya 1001 untuk produk A dan 1002 untuk produk B. Format ini sederhana dan mudah diterapkan, terutama untuk bisnis yang memiliki jumlah produk relatif terbatas.
2. Kode alfanumerik
Kode alfanumerik menggabungkan huruf dan angka, misalnya KA-1001 atau ELC-250. Format ini lebih fleksibel karena kode dapat dibuat untuk memberikan informasi tertentu, seperti kategori produk, jenis barang, atau nomor item.
3. Kode berbasis kategori
Kode ini disusun berdasarkan kelompok atau jenis produk agar kategori barang lebih mudah dikenali. Contohnya, FUR-001 dapat digunakan untuk produk furnitur, sedangkan ELE-150 digunakan untuk produk elektronik.
4. Kode barcode dan QR code
Barcode dan QR code memungkinkan identifikasi barang dilakukan menggunakan perangkat pemindai. Cara ini sangat membantu bisnis dengan volume transaksi tinggi karena input data dapat dilakukan lebih cepat sekaligus mengurangi kesalahan pencatatan manual.
Menurut GS1, barcode berperan penting dalam rantai pasok karena membantu berbagai pihak untuk mengidentifikasi dan melacak produk secara otomatis saat barang berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya.Â
5. Kode berbasis lokasi
Kode berbasis lokasi menggunakan informasi tempat penyimpanan sebagai bagian dari kode barang. Contohnya R1-S2-B3 dapat menunjukkan Rak 1, Seksi 2, dan Baris 3. Format ini membantu tim gudang menemukan barang dengan lebih cepat.
Fungsi kode inventaris barang
Sistem kode yang konsisten juga membantu berbagai proses pengelolaan persediaan menjadi lebih teratur.
1. Mempermudah pelacakan barang
Setiap barang memiliki identitas yang berbeda sehingga lebih mudah ditemukan dan dilacak. Tim dapat mengetahui jumlah maupun lokasi stok tanpa harus memeriksa barang satu per satu secara manual.
2. Meningkatkan akurasi data stok
Kode yang konsisten membantu memastikan setiap transaksi barang masuk dan keluar tercatat pada produk yang tepat. Hal ini dapat mengurangi risiko selisih antara jumlah stok fisik dan data yang tercatat di sistem.
3. Mendukung proses audit dan pelaporan
Setiap barang dapat memiliki riwayat transaksi yang lebih mudah ditelusuri. Kondisi ini membantu proses audit stok sekaligus memudahkan bisnis ketika membutuhkan laporan persediaan secara berkala.
4. Mempercepat proses pemesanan dan penjualan
Kode inventaris dapat digunakan untuk mencari dan memilih produk dengan lebih cepat saat proses pembelian maupun penjualan. Tim tidak perlu mencari barang berdasarkan nama yang terkadang terlalu panjang atau memiliki banyak variasi.
5. Meningkatkan efisiensi manajemen gudang
Sistem kode yang terstruktur membuat aktivitas gudang menjadi lebih terorganisir, mulai dari penempatan barang hingga proses picking dan packing. Tim juga lebih mudah berkoordinasi karena menggunakan identitas produk yang sama.
Cara membuat kode inventaris barang yang efektif
Kode inventaris sebaiknya tidak dibuat secara asal. Struktur yang terlalu rumit justru dapat menyulitkan tim saat membaca atau membuat kode baru. Berikut langkah yang dapat digunakan:
1. Tentukan informasi penting yang akan dimasukkan
Tentukan atribut produk yang memang dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari, seperti kategori, warna, ukuran, pemasok, atau lokasi gudang. Pilih informasi yang benar-benar relevan agar kode tetap singkat dan mudah digunakan.
2. Pilih format yang konsisten dan mudah dibaca
Tetapkan struktur kode yang sama untuk seluruh produk. Misalnya, dua huruf untuk kategori, tiga angka untuk nomor item, dan satu huruf untuk ukuran. Dengan format seperti BA-001-S, tim dapat memahami struktur kode dengan lebih mudah.
3. Hindari karakter yang mudah tertukar
Gunakan karakter yang mudah dibedakan, terutama jika kode akan sering dibaca secara manual. Huruf seperti O, I, dan L sebaiknya digunakan dengan hati-hati karena dapat terlihat mirip dengan angka 0 dan 1. Tanda hubung juga dapat digunakan untuk memisahkan bagian kode agar lebih mudah dibaca.
4. Buat dokumentasi dan sosialisasikan sistem
Setelah format ditetapkan, buat panduan sederhana tentang struktur dan aturan pembuatan kode. Pastikan seluruh tim yang terlibat memahami cara membaca dan membuat kode baru agar tidak muncul format yang berbeda-beda di kemudian hari.
Contoh kode inventaris barang di berbagai industri
Penerapan kode inventaris dapat disesuaikan dengan karakteristik produk dan kebutuhan setiap bisnis. Berikut beberapa contohnya:
1. Kode berdasarkan kategori produk
Bisnis dapat menggunakan awalan tertentu untuk menunjukkan kelompok produk. Misalnya, FUR-001 untuk kursi kayu, FUR-002 untuk meja kantor, ELC-101 untuk lampu LED, dan ELC-102 untuk kipas angin.
2. Kode berdasarkan lokasi gudang
Kode dapat dibuat berdasarkan lokasi penyimpanan untuk membantu tim menemukan barang dengan lebih cepat. Contohnya, WH1-A01-B02 dapat menunjukkan Gudang 1, Rak A01, dan Baris B02.
3. Kode berdasarkan tanggal produksi atau batch
Untuk bisnis yang mengelola produk berdasarkan batch, kode dapat mencantumkan informasi periode produksi. Contohnya, PRD-2401-001 dapat digunakan untuk menunjukkan batch Januari dengan nomor item 001. Format seperti ini membantu proses pelacakan stok berdasarkan batch.
4. Kode alfanumerik khusus
Bisnis juga dapat menggabungkan beberapa informasi dalam satu kode, misalnya KA-INV-2305. Format tersebut dapat disesuaikan dengan struktur internal bisnis dan digunakan ketika perusahaan membutuhkan sistem identifikasi yang lebih spesifik.
Jaga konsistensi kode inventaris produk di semua marketplace dengan Mekari Desty
Bagi seller yang berjualan di berbagai marketplace sekaligus, menjaga konsistensi kode inventaris menjadi tantangan tersendiri, terutama karena setiap marketplace bisa memiliki format maupun persyaratan yang sedikit berbeda.
Tanpa pengelolaan yang terpusat, memperbarui kode inventaris satu per satu di setiap marketplace bisa menjadi pekerjaan yang memakan waktu dan rawan menimbulkan duplikasi maupun ketidaksesuaian data antar channel.
Mekari Desty adalah software omnichannel marketplace yang membantu seller mengelola data produk, termasuk kode inventaris, secara terpusat melalui Master Product, sehingga perubahan yang dilakukan langsung diterapkan secara konsisten ke seluruh marketplace yang terhubung. Berikut fitur yang mendukung pengelolaan kode inventaris yang lebih terstruktur:
- Master Product terpusat: Kelola seluruh data produk termasuk kode inventaris dalam satu sistem, lalu distribusikan ke berbagai marketplace sekaligus tanpa perlu input ulang di setiap platform.
- Sinkronisasi stok real-time lintas marketplace: Setiap perubahan stok diperbarui otomatis di semua channel, sehingga data inventaris selalu konsisten dengan kondisi aktual tanpa rekonsiliasi manual.
- Manajemen multi-gudang: Stok dari berbagai lokasi gudang dikelola dalam satu sistem terpusat, memudahkan pelacakan dan pengelolaan kode inventaris untuk bisnis dengan lebih dari satu titik penyimpanan.
- SKU unlimited: Kelola jumlah produk dan varian sebanyak yang dibutuhkan tanpa batasan, mendukung penerapan sistem kode inventaris yang terstruktur sekalipun katalog produk terus berkembang.
Mekari Desty menggunakan sistem top up atau bayar sesuai pemakaian per pesanan selesai, bukan subscription bulanan. Biaya lebih terjangkau karena menyesuaikan volume transaksi bisnis, bukan tarif tetap yang sama terlepas dari seberapa ramai atau sepinya penjualan setiap bulan.
Saatnya jaga konsistensi kode inventaris produk di semua marketplace bersama Mekari Desty.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari Desty are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Desty is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.