11 mins read

Jenis-jenis Influencer dan Cara Memilih yang Tepat

Diterbitkan
Diperbarui
jenis influencer
Mekari Desty Highlights
  • Jenis influencer bisa dibedakan dari beberapa sisi sekaligus, mulai dari jumlah followers, platform yang digunakan, niche konten, hingga peran mereka dalam kerja sama bisnis seperti KOL, KOC, atau affiliate creator.
  • Banyak brand fokus mengejar influencer dengan followers besar, padahal jenis kerja sama yang dipilih justru lebih menentukan hasil kampanye dibanding sekadar jumlah pengikut.
  • Manajemen Promosi Mekari Desty membantu seller menyinkronkan stok promo dan harga coret saat menjalankan campaign bersama influencer atau affiliate creator di berbagai marketplace.

Banyak brand masih menyamakan semua influencer, padahal jenisnya jauh lebih beragam dari sekadar jumlah followers. Salah pilih jenis kerja sama bisa membuat campaign kurang tepat sasaran, meski influencer yang dipilih sebenarnya punya pengaruh besar.

Artikel ini membahas apa itu influencer, jenis-jenisnya dari berbagai sisi mulai dari followers, platform, niche, hingga peran mereka dalam bisnis, skema kerja sama dan pembayaran yang umum digunakan, cara memilih yang paling tepat, cara mengenali fake followers, sampai tren yang perlu diperhatikan dalam strategi influencer marketing Anda.

Simak penjelasannya agar strategi kerja sama influencer Anda lebih terarah dan efektif.

center banner mekari desty

Apa itu influencer?

Influencer adalah individu yang memiliki pengaruh di media sosial atau platform digital dan mampu mempengaruhi cara audiens berpikir, memilih, hingga mengambil keputusan melalui konten yang mereka buat. Pengaruh tersebut biasanya terbentuk dari hubungan dan kepercayaan yang dibangun secara konsisten dengan para pengikutnya.

Bagi brand, influencer dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produk atau layanan kepada audiens yang lebih spesifik. Rekomendasi dari influencer juga dapat terasa lebih personal karena disampaikan melalui konten yang sudah biasa dikonsumsi oleh pengikutnya.

Namun, memilih influencer tidak cukup hanya berdasarkan jumlah followers. Brand perlu mempertimbangkan kesesuaian antara influencer, produk, karakter brand, dan target audiens. 

Influencer yang memiliki audiens sesuai dengan target pasar akan membantu pesan promosi menjangkau orang yang memang berpotensi membutuhkan produk tersebut. 

Jenis influencer berdasarkan jumlah followers

Klasifikasi paling umum membagi influencer berdasarkan jumlah pengikutnya, mulai dari nano hingga mega influencer.

1. Nano influencer

Memiliki sekitar 1.000–10.000 followers. Karena jumlah audiensnya relatif kecil, hubungan dengan pengikut biasanya terasa lebih dekat dan personal. Influencer jenis ini umumnya memiliki engagement yang cukup tinggi dan cocok untuk promosi yang menyasar komunitas atau niche tertentu.

2. Micro influencer

Memiliki sekitar 10.000–100.000 followers. Mereka biasanya dikenal karena fokus pada niche tertentu, seperti kecantikan, kuliner, fashion, atau teknologi. Meskipun jangkauannya lebih luas, interaksi dengan audiens masih cenderung terasa personal.

3. Macro influencer

Memiliki sekitar 100.000–1 juta followers. Jangkauannya sudah jauh lebih besar sehingga dapat membantu brand meningkatkan awareness kepada audiens yang lebih luas. Namun, seiring bertambahnya jumlah pengikut, engagement rate biasanya cenderung lebih rendah dibandingkan nano atau micro influencer.

4. Mega influencer

Memiliki lebih dari 1 juta followers. Kelompok ini biasanya mencakup selebritas, figur publik, atau kreator dengan basis pengikut yang sangat besar. Jangkauannya paling luas, tetapi biaya kerja sama umumnya lebih tinggi dan hubungan dengan audiens cenderung tidak sepersonal influencer dengan jumlah pengikut yang lebih kecil.

Jenis influencer berdasarkan platform yang digunakan

Selain jumlah followers, influencer juga bisa dibedakan dari platform utama yang mereka gunakan, karena setiap platform punya karakteristik konten yang berbeda.

1. Selebgram

Influencer yang aktif di Instagram dan umumnya membuat konten berupa foto, video, maupun Instagram Stories. Jenis influencer ini banyak digunakan untuk mempromosikan produk fashion, kecantikan, makanan, hingga gaya hidup karena Instagram mengandalkan konten visual.

2. YouTuber

Influencer yang menjadikan YouTube sebagai platform utama untuk membuat konten video, seperti vlog, tutorial, hingga ulasan produk secara mendalam. Jumlah subscribers dapat menjadi salah satu indikator ukuran audiens yang dimiliki.

3. TikTokers

Influencer yang aktif membuat konten video pendek di TikTok dengan format yang kreatif, ringan, dan mudah dibagikan. Platform ini juga memungkinkan konten menjangkau audiens yang lebih luas dengan cepat, sehingga TikTokers banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan awareness dan mengikuti tren.

4. Blogger

Influencer yang menyampaikan informasi dan rekomendasi melalui artikel di blog pribadi. Format ini cocok untuk produk atau topik yang membutuhkan penjelasan lebih lengkap, seperti ulasan produk, panduan, maupun pengalaman penggunaan.

5. Podcaster

Influencer yang membangun audiens melalui konten audio dalam format seperti diskusi, wawancara, atau cerita. Podcaster biasanya memiliki audiens yang cukup spesifik berdasarkan topik yang dibahas, sehingga dapat menjadi pilihan untuk brand yang ingin menjangkau komunitas dengan minat tertentu.

Jenis influencer berdasarkan niche atau bidang keahlian

Selain platform dan jumlah followers, influencer juga dapat dikelompokkan berdasarkan niche atau bidang yang menjadi fokus kontennya. 

Beberapa jenis yang umum ditemui antara lain:

1. Beauty dan fashion influencer

Berfokus pada konten seputar makeup, skincare, fashion, hingga tips styling. Cocok untuk brand kecantikan, pakaian, aksesori, dan produk perawatan diri.

2. Food influencer

Membuat konten seputar makanan dan minuman, seperti ulasan restoran, rekomendasi kuliner, resep, maupun produk makanan. Jenis influencer ini banyak digunakan untuk mempromosikan bisnis F&B.

3. Technology dan gaming influencer

Membahas gadget, aplikasi, perangkat elektronik, game, hingga perkembangan teknologi terbaru. Audiensnya biasanya memiliki ketertarikan khusus terhadap produk dan teknologi digital.

4. Health dan fitness influencer

Membagikan konten seputar olahraga, kebugaran, pola hidup sehat, dan berbagai tips untuk menjaga kesehatan. Niche ini cocok untuk brand olahraga, perlengkapan fitness, maupun produk yang berkaitan dengan gaya hidup sehat.

5. Finance influencer

Membahas topik seperti pengelolaan keuangan, investasi, bisnis, hingga perencanaan keuangan. Karena topiknya cukup spesifik, influencer di niche ini biasanya memiliki audiens yang mencari informasi dan edukasi terkait keuangan.

6. Travel dan lifestyle influencer

Membuat konten seputar perjalanan, destinasi wisata, hotel, aktivitas, hingga gaya hidup sehari-hari. Kontennya cocok untuk brand travel, hotel, transportasi, maupun produk lifestyle.

Pemilihan influencer berdasarkan niche membantu brand menjangkau audiens yang memang memiliki ketertarikan terhadap produk yang ditawarkan. Dengan begitu, promosi dapat terasa lebih relevan dan natural, bukan sekadar mengandalkan jumlah followers.

Jenis Influencer Berdasarkan Peran dalam Bisnis

Selain dari sisi audiens dan konten, influencer juga bisa dibedakan berdasarkan bentuk kerja sama dan perannya dalam strategi bisnis, terutama di ekosistem e-commerce.

1. KOL (Key Opinion Leader)

Sosok yang memiliki keahlian, pengalaman, atau otoritas di bidang tertentu. Pendapatnya dipercaya bukan hanya karena jumlah followers, tetapi juga karena kompetensi yang dimiliki. KOL cocok digunakan ketika brand ingin membangun kredibilitas dan menunjukkan keunggulan produk dari sudut pandang seorang ahli.

2. KOC (Key Opinion Consumer)

Konsumen yang membagikan pengalaman pribadi setelah menggunakan suatu produk. KOC tidak harus memiliki followers dalam jumlah besar, tetapi kontennya cenderung terasa lebih dekat dan relatable karena berasal dari sudut pandang pengguna biasa.

3. Affiliate creator

Kreator yang mempromosikan produk menggunakan link atau kode afiliasi dan mendapatkan komisi dari setiap transaksi yang berhasil. Model ini banyak digunakan dalam program seperti Shopee Affiliate dan TikTok Shop Affiliate karena dapat membantu brand mendorong penjualan sekaligus menjangkau audiens baru.

4. Brand ambassador

Individu yang bekerja sama dengan brand dalam jangka waktu tertentu untuk mewakili dan memperkuat citra brand secara konsisten. Berbeda dari kerja sama influencer yang biasanya bersifat per kampanye, brand ambassador umumnya memiliki hubungan yang lebih panjang dan dapat terlibat dalam berbagai aktivitas promosi.

5. Live streamer

Kreator yang mempromosikan produk melalui sesi live streaming dan berinteraksi langsung dengan audiens. Selama siaran berlangsung, live streamer dapat menjelaskan produk, menjawab pertanyaan, memberikan demonstrasi, serta menawarkan promo untuk mendorong audiens melakukan pembelian.

Skema kerja sama dan pembayaran berdasarkan jenis influencer

Setiap peran influencer di atas biasanya berjalan dengan skema kerja sama dan pembayaran yang berbeda. Memahami skema ini membantu Anda memperkirakan anggaran sekaligus menentukan bentuk kontrak yang paling sesuai.

1. Flat fee (biaya tetap per konten)

Influencer dibayar dengan nominal tetap berdasarkan jumlah konten yang disepakati, terlepas dari hasil penjualan yang diperoleh. Skema ini umum digunakan untuk kerja sama dengan KOL atau selebgram yang dipilih berdasarkan kredibilitas, kualitas konten, dan jangkauan audiens.

2. Barter produk

Influencer menerima produk secara gratis sebagai bentuk kompensasi tanpa pembayaran tunai. Skema ini sering digunakan untuk bekerja sama dengan nano influencer, micro influencer, atau KOC, terutama ketika brand memiliki anggaran terbatas.

3. Komisi berbasis performa (affiliate/performance-based)

Influencer mendapatkan komisi dari setiap transaksi yang terjadi melalui link atau kode afiliasi yang mereka bagikan. Skema ini membuat biaya kerja sama lebih bergantung pada hasil penjualan, sehingga brand tidak perlu membayar biaya tetap yang besar di awal.

4. Retainer atau kontrak jangka panjang

Influencer menerima pembayaran secara berkala, misalnya setiap bulan atau beberapa bulan sekali, untuk kerja sama dalam periode tertentu. Skema ini biasanya digunakan ketika brand ingin membangun hubungan jangka panjang, seperti melalui kerja sama dengan brand ambassador.

5. Bayar per sesi (untuk live streamer)

Live streamer dibayar berdasarkan setiap sesi live shopping yang dilakukan. Dalam beberapa kerja sama, pembayaran ini juga dapat digabungkan dengan komisi berdasarkan jumlah penjualan selama sesi berlangsung. 

Cara memilih jenis influencer yang tepat untuk bisnis anda

Setelah memahami berbagai jenis influencer, langkah selanjutnya adalah menentukan kombinasi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.

1. Tentukan tujuan campaign terlebih dahulu

Tentukan apakah campaign bertujuan untuk membangun brand awareness, meningkatkan kredibilitas, atau mendorong penjualan secara langsung. Tujuan ini akan membantu menentukan jenis influencer yang paling sesuai.

2. Sesuaikan dengan anggaran yang tersedia

Pertimbangkan biaya kerja sama dengan influencer sejak awal. Mega influencer dan brand ambassador biasanya membutuhkan investasi lebih besar, sedangkan nano influencer, KOC, dan affiliate creator dapat menjadi pilihan yang lebih terjangkau.

3. Perhatikan relevansi niche dan audiens

Pastikan niche influencer sesuai dengan produk yang ditawarkan dan audiensnya memiliki karakteristik yang mendekati target pasar brand. Influencer dengan followers lebih sedikit tetapi sangat relevan dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan influencer dengan audiens besar tetapi tidak sesuai.

4. Pilih platform yang sesuai dengan target audiens

Sesuaikan platform dengan kebiasaan target pasar dan jenis konten yang ingin disampaikan. TikTok misalnya cocok untuk menjangkau audiens melalui video singkat dan tren, sementara YouTube lebih sesuai untuk konten yang membutuhkan penjelasan atau ulasan secara lebih mendalam.

5. Jangan hanya melihat jumlah followers

Jumlah followers bukan satu-satunya indikator untuk menilai influencer. Perhatikan juga tingkat engagement, kualitas konten, karakter audiens, serta peran influencer yang dipilih, baik sebagai KOL, KOC, affiliate creator, maupun brand ambassador.

Cara mengenali fake followers dan engagement palsu

Sebelum memutuskan kerja sama, ada baiknya memverifikasi kualitas audiens influencer dengan cara berikut.

1. Perhatikan rasio like-to-follower

Bandingkan jumlah likes dengan total followers yang dimiliki influencer. Akun dengan jumlah followers besar tetapi mendapatkan likes yang sangat rendah secara konsisten perlu diperhatikan lebih lanjut karena bisa menunjukkan banyak pengikut yang tidak aktif atau berkualitas rendah.

2. Cek kualitas komentar

Perhatikan apakah komentar yang masuk benar-benar merespons isi konten. Komentar yang terlalu generik, berulang, atau hanya berisi emoji tanpa konteks dapat menjadi tanda adanya aktivitas bot atau engagement yang tidak organik. Sebaliknya, komentar yang spesifik dan relevan menunjukkan adanya interaksi nyata dari audiens.

3. Perhatikan pola pertumbuhan followers

Pertumbuhan followers yang meningkat secara drastis dalam waktu singkat, tetapi tidak diikuti peningkatan engagement yang sebanding, patut diperiksa lebih lanjut. Pertumbuhan audiens yang organik biasanya berlangsung secara lebih bertahap, meskipun tetap dapat mengalami lonjakan ketika sebuah konten menjadi viral.

4. Gunakan tools analisis pihak ketiga

Tools seperti HypeAuditor atau Social Blade dapat digunakan sebagai referensi tambahan untuk melihat perkembangan akun dan kualitas audiens. Data dari tools tersebut dapat membantu brand menemukan pola yang tidak terlihat hanya dari profil influencer.

5. Minta data insight dari influencer

Untuk kerja sama dengan nilai yang cukup besar, brand dapat meminta influencer menunjukkan data dari fitur analitik resmi seperti Instagram Insights atau TikTok Analytics. Data seperti engagement, jangkauan, serta demografi audiens dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kualitas followers yang dimiliki.

Tren Influencer marketing yang perlu diperhatikan

Lanskap influencer marketing terus berkembang. Beberapa tren berikut mulai memengaruhi cara brand menyusun strategi kerja sama dengan influencer.

1. Virtual influencer atau karakter berbasis AI

Sejumlah brand mulai menggunakan karakter digital yang dibuat dengan teknologi AI dan CGI sebagai alternatif influencer manusia. Format ini memberikan brand kontrol yang lebih besar terhadap karakter, visual, dan narasi yang ingin dibangun. Namun, virtual influencer masih tergolong strategi yang cukup niche dan umumnya membutuhkan sumber daya khusus untuk pengembangannya.

2. Live commerce semakin populer

Live shopping melalui platform seperti TikTok Shop dan Shopee Live membuat peran live streamer semakin penting dalam aktivitas pemasaran. Selain mengandalkan jumlah followers, kemampuan membawakan live, menjelaskan produk, menjawab pertanyaan, dan mendorong audiens untuk membeli juga menjadi faktor yang diperhatikan brand.

3. Pergeseran ke nano dan micro influencer

Brand mulai mempertimbangkan nano dan micro influencer sebagai alternatif dari influencer dengan jumlah followers yang sangat besar. 

Dengan audiens yang lebih spesifik dan interaksi yang cenderung lebih dekat, influencer dalam kategori ini dapat membantu brand membangun hubungan yang lebih personal dengan calon pelanggan sekaligus menjaga biaya kampanye tetap terkontrol.

Kelola kerja sama influencer dan penjualannya lebih mudah dengan Mekari Desty

Menjalankan campaign bersama berbagai jenis influencer, apalagi lewat skema affiliate atau live shopping, membutuhkan pengelolaan stok dan promo yang cepat agar tidak kehabisan saat campaign sedang ramai.

Mekari Desty adalah aplikasi omnichannel marketplace yang membantu seller menyatukan pengelolaan stok, produk, dan promosi dari berbagai marketplace dalam satu dashboard.

Karakteristik ini yang membuat Mekari Desty relevan bagi brand yang bekerja sama dengan berbagai jenis influencer sekaligus, karena stok dan harga promo bisa disiapkan lebih cepat tanpa mengatur satu per satu secara manual di setiap marketplace.

Berikut fitur utama dari Manajemen Promosi yang bisa dimanfaatkan:

  • Automated Promotion Stock Synchronization, menjaga stok promo tetap sinkron di berbagai marketplace selama campaign influencer berlangsung.
  • Automated Slash Price, menampilkan harga coret otomatis untuk mendukung campaign affiliate atau live streaming.
  • Promotion Stock Creation (Manual), mengatur stok khusus campaign secara fleksibel sesuai kebutuhan kerja sama dengan influencer.
  • Slash Price Creation (Manual), mengelola diskon secara mandiri di tiap produk sesuai strategi promosi yang disepakati dengan influencer.

Saatnya maksimalkan kerja sama influencer dan hasil penjualannya lebih praktis bersama Mekari Desty!

FAQ

1.Apa itu influencer?

1.Apa itu influencer?

Influencer adalah individu yang memiliki pengaruh kuat di media sosial atau platform digital dan mampu memengaruhi keputusan maupun perilaku audiensnya lewat konten yang mereka buat.

2. Apa saja jenis influencer berdasarkan jumlah followers?

2. Apa saja jenis influencer berdasarkan jumlah followers?

Jenisnya meliputi nano influencer (1.000-10.000 followers), micro influencer (10.000-100.000), macro influencer (100.000-1 juta), dan mega influencer (di atas 1 juta followers).

3. Apa saja jenis influencer berdasarkan platform yang digunakan?

3. Apa saja jenis influencer berdasarkan platform yang digunakan?

Jenisnya meliputi selebgram di Instagram, YouTuber dengan konten video, TikTokers dengan video pendek, blogger dengan konten tulisan, serta podcaster dengan konten audio.

4. Apa perbedaan KOL, KOC, affiliate creator, dan brand ambassador?

4. Apa perbedaan KOL, KOC, affiliate creator, dan brand ambassador?

KOL dipercaya karena keahlian di bidang tertentu, KOC adalah konsumen biasa yang berbagi pengalaman jujur, affiliate creator mendapat komisi dari penjualan lewat link afiliasi, dan brand ambassador menjalin kerja sama jangka panjang mewakili citra satu brand.